TANJUNGPINANG - Wilayah Kepulauan Riau (Kepri), dalam beberapa waktu terakhir sudah nihil dari kasus aktif
Covid-19. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepri, menyatakan Kepri berlum berstatus endemi
Covid-19. Baca juga: Vaksin Booster Perkuat Imun terhadap Covid-19 Kepala BPBD Kepri, Muhammad Hasbi menyatakan, pihak yang dapat menetapkan dan mencabut status pandemi menjadi endemi
Covid-19, hanya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di mana Indonesia tergabung di dalamnya.
"Pemerintah Indonesia, apalagi Pemprov Kepri tidak dapat mencabut status pandemi atau menetapkan status endemi
Covid-19, karena penetapan status tersebut merupakan wewenang WHO," ujarnya.
Baca juga: Gempar! 2 Tahun Dimakamkan, Jenazah Siti Fatimah Korban Pembunuhan Berantai Wowon Cs Masih Utuh Menurut dia, Kepri belum terbebas dari
Covid-19, meski wilayah itu nihil kasus aktif
Covid-19. Potensi penularan
Covid-19 masih cukup besar karena mobilitas penduduk antarnegara dan antarprovinsi cukup tinggi di Kepri.
Ditambah lagi dengan orang yang tertular
Covid-19 tetapi tidak bergejala atau bergejala ringan. Temuan kasus lainnya beberapa waktu lalu, sejumlah orang tidak menyadari dirinya tertular
Covid-19 sehingga masih beraktivitas seperti biasa.
"Rencana perubahan status dari pandemi menjadi endemi
Covid-19, tidak mengubah esensi wabah penyakit yang masih menular," katanya. Sampai sekarang, kata dia pemerintah tetap mempertahankan Satgas Penanganan
Covid-19, meski kasus
Covid-19 landai dalam beberapa bulan terakhir.
Baca juga: Proyek Megah Keraton Plered, Istana Baru Kerajaan Mataram yang Hancur Akibat Pemberontakan Trunojoyo "Satgas Penanganan
Covid-19 tetap bekerja, walaupun kasus aktif
Covid-19 semakin menurun secara nasional. Kami fokus ke program pencegahan penularan
Covid-19, dan peningkatan sistem kekebalan tubuh masyarakat," ucapnya.
Hasbi menuturkan, pemerintah mendorong percepatan program vaksinasi
Covid-19, khususnya untuk dosis booster kedua. Saat ini, capaian vaksinasi
Covid-19 dosis pertama sebanyak 1.776.874 orang atau 98,57 persen, dan dosis kedua 1.557.799 orang atau 86,41 persen.
Sementara untuk booster pertama sebanyak 775.917 orang atau 56,50 persen, dan booster kedua mencapai sebanyak 9.535 orang atau 9,42 persen. "Booster kedua diutamakan kepada tenaga kesehatan dan para lansia," katanya.
(eyt)