SURABAYA - Perkembangan desa wisata, menghadapi sejumlah tantangan untuk dapat terus berkembang dan berkelanjutan. Hal ini diungkapkan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf),
Angela Tanoesoedibjo saat hadir di Yniversitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya.
Baca juga: Ini Pesan Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo untuk Generasi Muda Salah satu tantangan yang dihadapi desa wisata, menurut
Angela tanoesoedibjo adalah terkait dengan kualitas sumber daya manusia (SDM). "Tantangan desa wisata itu ada di SDM. Dengan adanya akses kepada pendidikan, pasti pelaku desa wisata terbuka pikirannya dan diaplikasikan di desa wisata masing-masing," katanya.
Angela Tanoesoedibjo hadir di Unitomo, untuk menjadi pembicara seminar nasional tema "Membangun Desa Wisata Mendunia", dan peluncuran Sekolah Pariwisata Desa (Sepada). Dia mengungkapkan, Sepada di Unitomo ini merupakan yang pertama di Indonesia. Sepada diharapkan mampu mendorong industri pariwisata Indonesia lebih maju lagi.
Baca juga: Roro Anteng dan Joko Seger, Legenda Suku Tengger dan Kisah Cinta Abadi yang Terukir di Gunung Bromo Saat ini, ada sebanyak 4.700 Desa Wisata yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Jumlah tersebut setiap hari terus bertambah. "Dan Unitomo sangat sigap melihat peluang. Dengan Sepada, SDM desa wisata akan terus meningkat," katanya.
Sementara itu, Rektor Unitomo, Dr Siti Marwiyah mengatakan, kurikulum Sepada ini akan berisi tentang kepariwisataan yang akan banyak pada pengajaran luar ruangan. Materinya cukup beragama. Mulai dari sisi pemasaran hingga digitalisasi. Di Sepada ini, Unitomo menggandeng praktisi wisata dan juga dosen. "Kami sudah bekerjasama dengan sejumlah pelaku usaha pariwisata di Jatim," katanya.
Baca juga: Ajengan hingga Gus se-Jabar Siap Gotong Royong Menangkan Ganjar-Mahfud Dia menambahkan, sasaran dari Sepada ini adalah pegiat pariwisata yang ada di desa wisata. Saat ini sudah ada 213 pegiat pariwisata yang sudah mendaftar dari seluruh Indonesia. Ada yang dari Sumatera dan juga Kalimantan. Pengajarannya dilakukan secara hybrid. "Kami nanti juga aka nada ekspedisi desa wisata," imbuhnya.
(eyt)