MALANG - Seluruh perwira menengah TNI AU, yang menjadi korban jatuhnya
pesawat tempur taktis Super Tucano, telah ditemukan. Keempat korban tersebut adalah Kolonel Pnb. Subhan, Kolonel Adm. Widiono, Mayor Pnb. Yuda Seta, dan Kolonel Pnb. Sandhra Gunawan.
Baca juga: Terjang 3 Bukit dan Jurang, Evakuasi Korban Super Tucano Berlangsung Dramatis Kepastian para korban jatuhnya
pesawat Super Tucano telah ditemukan, disampaikan Kadispenau, Marsma TNI Agung Sasongkojati. "Dua korban berhasil ditemukan tim gabungan bersama warga, sesaat setelah
pesawat jatuh," ungkapnya.
Dua jenazah yang ditemukan pada siang hari, telah tiba di Rumah Sakit dr Munir Lanud Abdulrachman Saleh Malang. Sementara, dua jenazah lagi masih dalam perjalanan menuju Lanud Abdulrachman Saleh Malang, karena ditemukan pada petang hari.
Baca juga: Profil Penerbang di 2 Pesawat Super Tucano yang Jatuh, 1 Raih Seribu Jam Terbang saat Pangkat Mayor Setelah sampai di Rumah Sakit dr Munir Lanud Abdulrachman Saleh Malang, seluruh jenazah akan menjalani pemeriksaan. Agung menyebut, proses pemeriksaan jenazah akan dibantu personel kepolisian.
Rencananya, usai proses pemeriksaan jenazah selesai, menurut Agung jenazah akan disemayamkan di hanggar Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, dan dilanjutkan upacara militer untuk pelepasan jenazah. "Upacara militer pelepasan jenazah akan dilaksanakan pada Jumat (17/11/2023)," ungkapnya.
Jenazah korban jatuhnya
pesawat Super Tucano tersebut, juga akan dimakamkan secara militer. Untuk lokasi pemakaman, menurut Agung akan menyesuaikan dengan permintaan dari masing-masing keluarga korban.
Tragedi jatuhnya dua
pesawat tempur TNI AU jenis Super Tucano di lereng Gunung Bromo, menjadi kabar duka bagi para prajurit penjaga kedaulatan langit nusantara.
Pesawat tempur taktis buatan Brazil tersebut, selama ini menjadi kekuatan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Malang.
Pesawat bermesin propeler buatan Embraer S. A. Brazil tersebut, baru didatangkan ke Indonesia pada tahun 2012.
Pesawat tempur yang juga berfungsi sebagai
pesawat latih ini, menjadi pengganti
pesawat tempur OV 10 F Bronco yang sudah dilarang terbang karena usianya terlalu tua.
Agung menegaskan, kondisi
pesawat tempur Super Tucano yang jatuh tersebut, masih sangat layak terbang.
"Pesawat yang didatangkan pada tahun 2012 ini, kondisinya masih sangat layak terbang," tegasnya.
Baca juga: Jadi Korban Tragedi Super Tucano, Kolonel Pnb. Subhan Baru Menuntaskan Misi Kemanusiaan di Gaza Dia menyebutkan, ada empat
pesawat tempur Super Tucano, yang melaksanakan penerbangan pada Kamis (16/11/2023) siang. Dua
pesawat berhasil kembali ke Lanud Abdulrachman Saleh, sedangkan dua
pesawat jatuh di wilayah Kabupaten Pasuruan.
Lebih lanjut marsekal TNI bintang satu ini mengatakan, bahwa dugaan sementara
pesawat tempur Super Tucano jatuh akibat cuaca buruk. "Kami mengimbau masyarakat tidak memindahkan puing-puing
pesawat, untuk kepentingan penyelidikan," ujarnya.
(eyt)