floating-Produksi Menurun, Ekspor...
Produksi Menurun, Ekspor Karet Sumut Alami Stagnasi
Produksi Menurun, Ekspor...
Produksi Menurun, Ekspor Karet Sumut Alami Stagnasi
Sabtu, 11 Mei 2024 - 16:00 WIB
MEDAN - Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) mencatat volume ekspor karet alam asal Sumatra Utara pada April 2024 sebesar 17.878 ton. Naik tipis 2,06% (MoM) dibanding bulan sebelumnya.

Kenaikan ini tidak signifikan jika dibandingkan April 2023 (YoY) yang justru mengalami penurunan sebesar 20,14%. Bila melihat rata-rata normal volume ekspor bulanan sekitar 42 ribu ton (mampu sampai 50 ribu ton) maka terlihat kinerja ekspor karet Sumatra Utara terus mengalami pelemahan. Dari sisi produksi, kinerja industri karet Sumut juga turun tipis sebesar 0,84%.

Baca Juga: Krisis Bahan Olahan Karet di Sumut Makin Parah, 9 Pabrik Tutup

Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumatera Utara, Edy Irwansyah, mengatakan selama inifaktor sepinya permintaan merupakan pemicu utama. Namun saat ini, faktor lain yang turut mempengaruhi kinerja ekspor adalah keharusan dari pembeli (buyer) agar setiap partai karet yang diekspor harus mengikuti regulasi anti deforestasi Eropa yang dikenal dengan EUDR.

"Ekspor ke Eropa untuk April ke Eropa sebesar 21% dengan negara tujuan Belgia, Jerman, Italia, Luksemburg, Polandia, Slovenia, Turki, UK, dan Spanyol," kata Edy, Sabtu (11/5/2024).

Ekspor tersebut, sambung Edy, adalah karet remah (berupa SIR/TSR) untuk bahan baku pembuatan ban. Dampak yang lebih besar lagi bahwa negara tujuan non-Eropa juga mempersyaratkan pemenuhan EUDR, sebab buyer-nya adalah industri ban, dimana produk ban ini yang akan dipasarkan ke Eropa juga harus memenuhi regulasi EUDR.

"Kesulitan pabrik memenuhi regulasi EUDR mengakibatkan volume ekspor menurun. Salah seorang pengusaha (yang tidak ingin disebutkan namanya) menyebutkan bahwa sulit memenuhi regulasi EUDR tanpa bantuan pemerintah dalam hal legalitas lahan dan database petani karet," jelasnya.

Baca Juga: Permintaan Turun, Ekspor Karet Sumatera Utara Anjlok

Ekspor pada pengapalan April 2024, ada 21 negara tujuan ekspor, adapun lima posisi teratas adalah 1) Jepang 26,63%; 2) Amerika Serikat 26,49%; 3) Canada 7,45%; 4) Brazil 6,99%; dan 5) Polandia 4,66%. Terjadinya penurunan produksi yang diakibatkan pasokan BOKAR semakin terbatas masih terus berlanjut, juga masih dipengaruhi musim kemarau dan diselingi dengan hujan yang tak menentu.

Harga karet SIOCM-TSR20 rata-rata bulanan April sebesar 162,45 sen AS per kg atau telah menigkat sebesar 9,73 sen dari rataan bulan Januari. Selain gangguan penyakit gugur daun dan berkurangnya kebun karet, produksi karet pada Mei ini diperkirakan masih terganggu akibat hujan yang tidak menentu.
(nng)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Apindo: DSI Bisa Perkuat...
Apindo: DSI Bisa Perkuat Tata Kelola Ekspor Tanpa Menambah Beban Dunia Usaha
Wamenhub Sebut Potensi...
Wamenhub Sebut Potensi Penerimaan Negara Lewat PT DSI Bisa Tembus Rp2.671 Triliun
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang