JAKARTA -
Ekonomi Rusia disebut mengalami retakan serius yang bisa dimanfaatkan Barat untuk menempatkan
Ukraina berada di posisi terbaik dalam upaya menjalin kesepakatan damai. Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Finlandia, Elina Valtonen.
Dalam sebuah wawancara dengan The Telegraph, Elina yang berada di London untuk pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri, mendesak negara-negara Barat untuk "mempertahankan tekanan ekonomi" pada Rusia di bulan-bulan kritis ke depannya.
Baca Juga: Gas Rusia Diam-diam Masih Ada di Uni Eropa, 837.300 Metrik Ton Mengalir di Awal 2025 "Kami melihat bahwa
sanksi sudah berhasil, ekonomi Rusia menunjukkan beberapa retakan serius. Kami hanya perlu menyelesaikan semuanya sehingga bisa ada perdamaian, mudah-mudahan di akhir tahun," kata Valtonen.
Pernyataan Menlu Finlandia muncul di tengah dorongan baru untuk membatasi "armada bayangan" kapal tanker tua yang tidak diasuransikan yang digunakan Rusia untuk menghindari sanksi Barat.
Moskow mengandalkan sekitar 600 kapal semacam itu untuk secara diam-diam membawa minyak dan gasnya ke seluruh dunia, merusak batasan harga Uni Eropa dan G7 untuk bahan bakar dan produk minyak buminya.
Efeknya Rusia telah memperoleh lebih dari 650 miliar pounds dari ekspor minyak dan gas sejak perang dimulai pada tahun 2022. Pada bulan Desember, 12 negara Eropa termasuk Inggris dan Finlandia setuju untuk mulai meminta bukti asuransi dari kapal armada bayangan yang dicurigai saat mereka melewati Selat Inggris dan lautan di sekitar Denmark, Swedia dan Finlandia.
Baca Juga: Investor Veteran Jim Rogers Ramalkan Ledakan Ekonomi Rusia Jika diterapkan secara efektif, pemeriksaan tambahan dapat mengganggu operasiasional armada. Para ekonom juga menyoroti tanda-tanda ketegangan dalam ekonomi Rusia dalam beberapa bulan terakhir, seperti keputusan bank sentral untuk menaikkan suku bunga utamanya menjadi 21%.
(akr)