JAKARTA - Pertempuran merebut Kota Dili, Timor Timur (Timtim) menjadi peristiwa memilukan bagi prajurit Kopassandha kini
Kopassus saat Operasi Seroja. Tidak sedikit prajurit Korps Baret Merah yang terluka parah dan gugur dalam operasi tersebut.
Pagi itu, 7 Desember 1975 deru suara pesawat Hercules memecah kegelapan malam di atas Kota di Dili, Timtim yang sekarang bernama Timor Leste. Delapan pesawat Hercules membentuk formasi dua intan.
Tepat pukul 05.45 WITA lampu hijau di atas pintu pesawat menyala bersamaan bel bordering panjang sebagai tanda dimulainya serbuan lintas udara. Prajurit Kopassus yang tergabung dalam Nanggal V bersiap untuk terjun merebut pusat pemerintahan, lapangan terbang, pusat komunikasi, pelabuhan di Kota Dili.
Baca juga: 5 Hari Tak Makan, Jenderal Kopassus Ini Nyaris Tewas saat Selamatkan 4 Nyawa Prajuritnya Saat ketinggian mencapai 900-.1250 kaki, prajurit satu persatu mulai lompat terjun dari pesawat. Namun belum juga mendarat, mereka sudah dikejutkan oleh rentetan senjata yang cukup gencar dari bawah. Desingan peluru dan sinar lintasan peluru atau tracer tampak terlihat jelas di sisi kanan dan kiri prajurit Kopassus. Bahkan beberapa di antaranya mengenai payung terjun dan prajurit Kopassus.
Para penerjun tidak berdaya melawan tembakan dari bawah karena senjata mereka masih terikat di kaki. Bahkan tembakan gencar dari Portuguese Paratroopers atau Tropas yang mengenai lima pesawat Hercules membuat formasi intan buyar.
Baca juga: Duka Operasi Seroja, 129 Prajurit Terbaik Kopassus Gugur di Timtim Salah seorang loadmaster, Pelda Pudjio, gugur di pesawat karena terkena dua tembakan di bagian dada. Sebuah kengerian yang harus dihadapi prajurit Kopassus sebelum mereka mendarat.
“Begitu exit, yang selalu saya ingat harus bisa menentukan arah ke utara. Begitu melayang dalam cuaca yang masih remang-remang dari bawah kanan di sebuah lapangan depan kantor gubernuran tiba-tiba dentuman senjata berat menyalak. Tat..tat..tat..lho kok begini,” ujar Komandan Grup 1 Kopassus Parakomando Kopassandha Letkol Inf. Soegito.
Menyadari gencarnya serangan dari musuh, pesawat Hercules kemudian meninggalkan lokasi dan menghentikan penerjunan. Sebanyak 72 anggota Nanggala V tidak jadi terjun termasuk Lettu Inf. Luhut Binsar Pandjaitan dan Mayor Inf. Theo Syafei.
Sementara para prajurit yang bisa mendarat langsung bertempur habis-habisan melawan musuh. Tapi tidak sedikit juga prajurit Kopassus yang tersangkut di pohon, kabel listrik dan atap gedung. Pertempuran sengit terjadi di seluruh Kota Dili.
Kapten Inf. Atang Sutresna sebelum gugur dalam pertempuran di Timtim. Foto/istKapten Inf. Atang Sanjaya yang memimpin Kompi B dengan sasaran Pelabuhan Dili mengalami luka cukup parah. Peluru musuh mengenai senjata AK-47 akibatnya pecahan peluru 7.62 melukai tangannya.
Begitu juga Mayor Inf. Atang Sutresna. Dia gugur dalam pertempuran merebut kantor gubernur. Saat itu, Mayor Inf. Atang berupaya mengatasi gencarnya tembakan dari gedung merah. Baru maju 25 meter, Mayor Inf. Atang terkena peluru di bagian perutnya dan langsung terjatuh.
Koptu Sugeng yang melihat langsung berusaha menyelamatkan dengan menarik tubuh Mayor Inf. Atang. Namun nahas, tembakan musuh mengenai leher hingga tembus ke kepala.
”Data intelijen yang diperoleh Indonesia mengenai Tropas tidak akurat terutama mengenai kemampuan tempur dan motivasi tempur mereka. Tropas tentara yang dilatih sesuai dengan standar NATO dan sejumlah tentaranya sudah berpengalaman perang di Mozambique dan Angola. Mereka memiliki kemampuan tempur, menggunakan perlindungan, ruang tembak dan menyusun pertahanan amat baik,” kata Jenderal TNI Purn Luhut Binsar Pandjaitan yang kala itu menjabat sebagai Dantim B dikutip dari buku berjudul “Kopassus untuk Indonesia”
Sejarah Operasi SerojaDikutip dari buku biografi Letjen TNI (Purn) Sutiyoso berjudul “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando” dikutip SindoNews, Selasa (11/3/2025) diceritakan, Operasi Seroja yang digelar pada 7 Desember 1975 ini berawal dari keprihatinan pemerintah Indonesia terhadap situasi politik dan keamanan di Timor Leste yang semakin genting menyusul hengkangnya Portugis dari wilayah tersebut akibat Revolusi Bunga.
Sepeninggal Portugis, konflik bersenjata di antara faksi-faksi yang bertikai yakni Uniao Democratica de Timorense (UDT), kemudian Fretilin, dan Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti) membuat ribuan pengungsi dari Timor Leste membanjiri daerah perbatasan di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meminta perlindungan kepada pemerintah Indonesia.
Konflik bersenjata itu dipicu proklamasi kemerdekaan Timor Timur pada 25 November 1975 oleh para perwira muda tentara beraliran sosial komunis karena adanya Revolusi Bunga Anyelir di Portugal.
Kekhawatiran banyak kalangan termasuk Amerika Serikat terhadap penyebaran paham komunis membuat Indonesia yang baru saja menghadapi pemberontakan bersenjata Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui gerakan G30S/PKI khawatir Timtim akan menjadi basis kekuatan untuk menyerang Indonesia.
(cip)