floating-3 Jenderal Legendaris...
3 Jenderal Legendaris Sezaman Try Sutrisno, Berkarier di Kopassus hingga Penerima Adhi Makayasa
3 Jenderal Legendaris...
3 Jenderal Legendaris Sezaman Try Sutrisno, Berkarier di Kopassus hingga Penerima Adhi Makayasa
Jum'at, 02 Mei 2025 - 08:22 WIB
JAKARTA - Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno yang pernah menjabat Wakil Presiden (Wapres) dan Panglima ABRI (TNI) merupakan salah satu prajurit di zaman Orde Baru yang berkarier moncer.

Jenderal TNI ini menjadi salah satu tokoh militer yang diperhitungkan. Bahkan usai pensiun dari militer, Try Sutrisno menjadi Wapres mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1993-1998.

Baca juga: 9 Fakta Try Sutrisno, Sosok Jenderal Disegani di Era Soeharto yang Kini Tuntut Wapres Diganti

Nama Try Sutrisno yang pernah menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) saat ini menjadi perbincangan vokal terkait isu-isu strategis kenegaraan, terutama dalam usulan pergantian Wakil Presiden (Wapres).

Selain Try Sutrisno, di zamannya ada 3 prajurit TNI yang menjadi Jenderal legendaris dan berkarier moncer. Siapa saja mereka.

3 Jenderal Legendaris Sezaman dengan Try Sutrisno

1. Jenderal TNI (Purn) LB Moerdani

3 Jenderal Legendaris...

Jenderal TNI (Purn) Leonardus Benjamin Moerdani (LB Moerdani) merupakan tokoh militer legendaris Indonesia. Jenderal Kopassus ini pernah menjabat sejumlah posisi penting di TNI saat zaman Presiden Soekarno dan Soeharto.

LB Moerdani merupakan putra dari pasangan Raden Bagus Moerdani Sosrodirjo dan Jeanne Roechlahir. Dia di Blora, Jawa Tengah pada 2 Oktober 1932 silam. Dia juga sering disapa sebagai Benny Moerdani.

Baca juga: 5 Fakta Try Sutrisno, Mantan Panglima TNI yang Viral Tak Disalami Jokowi

Saat berusia sekitar 13 tahun, ia pernah ikut dalam penyerangan kempetei di Solo, sebelum akhirnya bergabung dengan Tentara Pelajar. LB Moerdani kemudian masuk Pusat Pendidikan Angkatan Darat (P3AD).

Julius Pour dalam 'Benny: Tragedi Seorang Loyalis' mengungkap bahwa LB Moerdani muda memulai pelatihan pada 1951 dan terpilih ikut pendidikan tambahan di Sekolah Pelatih Infanteri (SPI). Beberapa waktu berlalu, LB Moerdani lulus tahun 1952 dengan pangkat Letnan Cadangan (Pembantu Letnan Satu).

LB Moerdani sempat ditempatkan sebagai instruktur dalam Sekolah Kader Infanteri, sebelum akhirnya dilantik menjadi Letnan Dua Infanteri dan resmi menjadi perwira militer professional. Pada 4 Juli 1954 LB Moerdani kemudian bertugas di TT/III Siliwangi yang memelihara wilayah keamanan Jawa Barat.

Lalu pada 1954, LB Moerdani ditunjuk Kolonel Alex Evert Kawilarang selaku Panglima TT/III Siliwangi sebagai pelatih prajurit baru yang ingin bergabung dengan Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD). Pada 1956, KKAD berganti nama menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Dia ditunjuk sebagai komandan kompi. Selama dinas di RPKAD, LB Moerdani banyak berperan menumpas pemberontakan seperti Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada 1960, ia mendapat mandat dari Letjen Ahmad Yani untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Infanteri Angkatan Darat Amerika Serikat di Fort Benning.

Pada 1961, LB Moerdani akhirnya menyelesaikan pendidikan di Fort Benning. Tak lama, ia langsung ikut bergabung dalam persiapan pengambilalihan Irian Barat. Berkat kontribusinya, dia bahkan dianugerahi Bintang Sakti oleh Presiden Soekarno. Tanda penghargaan tersebut tersemat di bawah wing tanda kecakapan pasukan payung dada kirinya.

Selanjutnya di tahun 1965, LB Moerdani dipindahkan dari RPKAD ke Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Di sana, ia menjadi Wakil Asisten Intelijen di bawah Ali Moertopo dan beberapa kali tergabung dalam tim Operasi Khusus.

Pemindahan LB Moerdani dari RPKAD membawa pengaruh besar atas sikapnya terhadap satuan tersebut. Tiga jam setelah menerima perintah, ia langsung meninggalkan Cijantung. Di dalam hati, ia bahkan berjanji tidak akan pernah mengenakan Baret Merah Kopassus lagi.

Setelah munculnya Gerakan 30 September (G30S) PKI pada 1965, Benny bergabung dengan Ali Moertopo untuk mengakhiri konfrontasi yang terjadi. Tak butuh waktu lama, gerakan tersebut berhasil ditumpas oleh Soeharto yang waktu itu masih menjadi Pangkostrad.

Setelah pergantian kekuasaan ke Orde Baru, karier LB Moerdani terbilang semakin moncer. Ia mulai dikenal sebagai salah satu tangan kanan Soeharto dalam bidang keamanan presiden dan negara. Kedekatannya itu bahkan membuat Soeharto merestuinya sebagai Panglima ABRI (TNI).

Benny lalu menggantikan Jenderal M Jusuf dan menjadi Panglima TNI pada periode 1983-1988. Pada 1988, kedekatan Benny dan Soeharto disebut tengah memburuk. Dianggap terlalu banyak melakukan kritik terhadap pemerintahan, ia lalu digantikan oleh Try Sutrisno sebagai Panglima ABRI.

Namun, Soeharto tidak langsung membuang LB Moerdani. Ia digeser menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan. Tak lama, LB Moerdani kembali mendapat tuduhan ingin melakukan kudeta terhadap Orde Baru. Pada 1993, jabatan Menteri Pertahanan dan Keamanan dicopot, lalu diberikan kepada Edi Sudrajat.

Setelah itu, LB Moerdani memilih vakum dari politik. Kegemilangan karier LB Moerdani mulai berubah total seiring waktu. Memasuki usia senja, Benny tinggal di kediamannya kawasan Hang Lekir, Jakarta Selatan dengan ditemani istri, anak tunggalnya, dan juga seorang perawat.

Untuk sekadar komunikasi, ia hanya dibantu lonceng karena memang waktu itu hidupnya sudah berada di atas kursi roda. Pada 29 Agustus 2004, Benny meninggal dunia dalam usia ke-71.

2. Jenderal TNI (Purn) Rudini

3 Jenderal Legendaris...


Jenderal Rudini pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1983-1986. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Kostrad (Pangkostrad). Karier militer Rudini dimulai saat menempuh pendidikan militer di Breda, Belanda.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia sempat berkuliah di Jakarta karena keinginan orang tuanya agar menjadi dokter. Namun, hatinya tetap tertuju pada dunia militer. Ia pernah mencoba mendaftar sebagai prajurit TNI AU, tetapi gagal karena tidak memenuhi syarat tinggi badan. Hingga akhirnya, pada Agustus 1951, ia mendengar kabar bahwa TNI AD membuka pendaftaran untuk pendidikan di Akademi Militer Kerajaan di Breda, Belanda.

Dalam suatu kesempatan, pria kelahiran Malang itu ditunjuk langsung oleh Presiden Soeharto menjadi KSAD. Kisahnya tercantum dalam buku biografi Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit karya Atmadji Sumarkidjo. Kala itu disebutkan bahwa Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal M Jusuf memanggil Rudini ke rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Saat dipanggil oleh Panglima, Rudini sendiri tidak mengetahui alasan dirinya dipanggil. Ia pun merasa tegang menunggu perintah Jenderal M Jusuf. Betapa terkejutnya ia saat diberitahu bahwa dirinya telah ditunjuk sebagai KSAD.

“Kamu nanti menggantikan Poniman sebagai KSAD. Pelantikan oleh Presiden akan dilakukan dua hari lagi di Istana Negara,” ujar M Jusuf seperti yang tertulis dalam buku tersebut.

Mendengar hal itu, meski masih terkejut, Rudini hanya memberikan jawaban singkat, “Siap, Pak.”

Dalam buku biografinya Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto, Prabowo mengisahkan bahwa rencana pergantian KSAD ternyata juga sempat terdengar oleh Ibu Negara, Tien Soeharto.

Pada suatu jamuan makan malam di Jalan Cendana, Bu Tien menyampaikan harapannya kepada Presiden Soeharto agar Pangdam Udayana, Mayjen Dading Kalbuadi, yang terpilih sebagai KSAD.

“Itu lho Pak, yang bagus itu Pangdam Bali, Pak Dading. Tinggi, gagah, dan tampan. Cocok, sebaiknya dia yang jadi KSAD,” ujar Bu Tien seperti yang ditirukan oleh Prabowo. Mendengar hal itu, Pak Harto hanya tersenyum. Pada kesempatan makan malam berikutnya, Bu Tien kembali mengungkapkan harapan yang sama. Namun, lagi-lagi, Pak Harto hanya tersenyum dan berkata, “Masih digodok.”

Tak lama setelah itu, media massa memberitakan bahwa KSAD baru telah dipilih. Sosok tersebut adalah Rudini. Saat kembali menghadiri jamuan makan malam bersama Prabowo, Bu Tien terlihat kecewa.

“Bapak itu enggak mau dengar saran Ibu,” ucapnya kepada Prabowo.

Karier militer Rudini lebih banyak dihabiskan di satuan elite Kostrad. Ia pernah terlibat dalam operasi penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan. Setelah menyelesaikan Kursus Lanjutan Perwira di Bandung, Rudini mendapat kepercayaan sebagai Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders, yang pada 1968 menjadi bagian dari Kostrad.

Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, termasuk sebagai Kepala Staf dan Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad, Kepala Staf dan Panglima Komando Tempur Lintas Udara, Kas Kostrad, hingga Pangdam XIII/Merdeka.

Kariernya semakin bersinar ketika dipercaya menjadi Pangkostrad, posisi yang sebelumnya pernah dipegang oleh Soeharto. Dari sinilah jalan menuju kursi KSAD terbuka lebar. Setelah pensiun dari dunia militer, Rudini melanjutkan kiprahnya di pemerintahan.

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, lalu menjadi Ketua Lembaga Pemilihan Umum (LPU), yang kini dikenal sebagai Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jenderal Rudini menghembuskan napas terakhir di Jakarta pada 21 Januari 2006.

3. Jenderal TNI (Purn) Edi Sudrajat

3 Jenderal Legendaris...


Jenderal Edi Sudrajat merupakan abituren terbaik Akademi milite (Akmil) 1960 peraih penghargaan Adhi Makayasa. Edi Sudrajat lahir di Jambi pada 22 April 1938.

Karier militer Edi Sudrajat dimulai usai lulus dari Akmil. Dia kemudian ditugaskan sebagai Komandan Peleton di Batalyon Infanteri 515/Tanggul, Jember selama 2 tahun, yakni pada 1961-1962. Selanjutnya sempat ikut dalam Operasi Trikora.

Kemudian Edi ditugaskan dalam operasi keamanan terhadap Republik Maluku Selatan, Organisasi Papua Merdeka, dan penumpasan Gerakan 30 September (G30S) PKI.

Pada 1980, ketika Edi Sudrajat berpangkat Brigadir Jenderal, dia menjabat sebagai Panglima Komando Tempur Lintas Udara Kostrad. Setahun kemudian Panglima Kodam II/Bukit Barisan di Medan dijabatnya setelah pangkatnya naik menjadi Jenderal Bintang Dua atau Mayor Jenderal.

Selanjutnya dia dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Pangdam Kodam III/Siliwangi di Bandung pada tahun 1983-1985.

Pada tahun 1985 sampai 1986, Edi diangkat menjadi Asisten Operasi Kasum ABRI. Setelah pangkatnya menjadi Letnan Jenderal, dia dipercaya untuk jabatan Wakil Kepala Staf TNI-AD dari tahun 1986 hingga 1988.

Hingga akhirnya diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) hingga 1993. Tahun tersebut sekaligus menjadi pencapaian tertinggi Edi Sudrajat setelah diangkat menjadi Panglima ABRI (TNI) menggantikan Jenderal Try Soetrisno.

Selain itu dia juga pernah menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam Kabinet Pembangunan VI era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Setelah pensiun, Jenderal (Purn) Edi Sudradjat meninggal dunia pada Jumat 1 Desember 2006 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dia sudah lama menderita sakit dan terakhir dirawat di RSPAD sejak 19 November 2006. Sudrajat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
(shf)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Harumkan Nama Bangsa,...
Harumkan Nama Bangsa, Kolonel Cpn Jimmy Sirait Raih Gelar Master di US Army War College
5 Jenderal dengan Karier...
5 Jenderal dengan Karier Paling Moncer hingga Menjadi Panglima TNI
Jabat Wakil Kepala BGN,...
Jabat Wakil Kepala BGN, Mayjen Trenggono Ajukan Pensiun Dini dari TNI
Profil Mayjen TNI Trenggono,...
Profil Mayjen TNI Trenggono, Jenderal Jebolan Akmil 1993 yang Kini Jabat Wakil Kepala BGN