VATIKAN - Salah satu mobil kepausan mendiang
Paus Fransiskus sedang diubah menjadi klinik kesehatan keliling untuk anak-anak di
Jalur Gaza. Itu untuk memenuhi salah satu permintaan terakhir mendiang pemimpin Katolik sedunia itu sebelum kematiannya pada 21 April,
menurut laporan
Vatican News, Senin (5/5/2025).
Laporan itu menyebutkan bahwa Paus Fransiskus mempercayakan proyek klinik keliling itu kepada Caritas Jerusalem beberapa bulan sebelum kematiannya.
Organisasi bantuan Katolik itu melengkapi mobil kepausan tersebut dengan tes infeksi cepat, vaksin, peralatan diagnostik, dan perlengkapan jahitan, yang akan dikelola oleh tenaga medis.
Baca Juga: Paus Fransiskus Wafat usai Sampaikan Pidato Terakhir Serukan Diakhirinya Perang Gaza Kendaraan itu sendiri memiliki kepentingan simbolis karena tetap berada di wilayah tersebut setelah kunjungan bersejarah Paus Fransiskus tahun 2014 ke Israel dan wilayah Palestina, membuatnya siap digunakan untuk transformasi ini.
Vatikan mencatat bahwa Paus Fransiskus menjaga kontak dekat dengan komunitas Kristen kecil di Gaza selama konflik, menelepon Gereja Keluarga Kudus di Gaza hampir setiap hari.
Paus Fransiskus sering berbicara tentang kepeduliannya terhadap kaum muda, menurut
Vatican News. "Anak-anak bukanlah angka. Mereka adalah wajah. Nama. Cerita. Dan masing-masing adalah sakral," tulis media tersebut mengutip ucapan Paus Fransiskus semasa hidup.
Peter Brune, Sekretaris Jenderal Caritas Swedia, menulis dalam siaran pers: "Ini adalah intervensi konkret yang menyelamatkan nyawa di saat sistem kesehatan di Gaza hampir sepenuhnya runtuh. Ini bukan sekadar kendaraan. Ini adalah pesan bahwa dunia tidak melupakan anak-anak di Gaza."
Anton Asfar, Sekretaris Jenderal Caritas Jerusalem, mengatakan kepada
Vatican News: "Kendaraan ini mewakili cinta, perhatian, dan kedekatan yang ditunjukkan oleh Yang Mulia bagi mereka yang paling rentan, yang ia ungkapkan selama krisis."
Caritas Jerusalem berencana untuk menyebarkan unit kesehatan keliling ke komunitas terpencil di Gaza setelah akses kemanusiaan memungkinkan. Waktunya tetap bergantung pada kondisi keamanan dan protokol akses di zona konflik.
Layanan kesehatan di Gaza telah hancur akibat serangan brutal Israel di tengah perang Israel-Hamas yang sedang berlangsung.
Israel telah mencegah semua bantuan dan pasokan lainnya masuk Gaza sejak Maret lalu, dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan Hamas saat itu bahwa "konsekuensi tambahan" dapat terjadi.
Beberapa hari sebelum penghentian makanan, obat-obatan, dan pasokan lainnya, tahap pertama dari kesepakatan gencatan senjata selama enam minggu yang ditengahi oleh pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump berakhir.
Berdasarkan pengaturan itu, Hamas membebaskan 25 sandera Israel yang ditahan di Gaza sementara Israel memulangkan hampir 2.000 warga Palestina dari tahanan Israel.
Serangan Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel telah memicu lebih dari 18 bulan perang di Gaza.
Serangan itu menewaskan lebih dari 1.200 orang dan mengakibatkan 251 sandera dibawa ke daerah kantong Palestina itu, yang mendorong Israel untuk melancarkan operasi udara dan darat intensif terhadap kelompok militan Palestina di wilayah yang berpenduduk padat tersebut.
Perang itu telah menghancurkan Gaza, menggusur sebagian besar dari hampir 2 juta penduduknya berkali-kali dan menewaskan lebih dari 51.200 orang, menurut otoritas Gaza.
(mas)