RABAT - Saat latihan militer tahunan ‘Singa Afrika’ dimulai di Maroko pekan lalu, pasukan dari berbagai negara terekam berbaris di karpet merah, diapit oleh deretan bendera.Di dekat bagian tengah, bendera biru dan putih Israel berkibar, menjadi pemandangan langka di tanah Maroko.
Latihan tahunan, yang diselenggarakan bersama oleh Rabat dan Komando Afrika Amerika Serikat (AS), mempertemukan 10.000 tentara dari lebih dari 40 negara peserta.
Ini adalah ketiga kalinya Israel ikut serta dalam latihan tersebut. Namun tidak seperti tahun lalu, ketika keterlibatan Israel dirahasiakan dari mata publik di tengah perangnya di Gaza untuk menghindari reaksi keras dari Maroko, partisipasi tahun ini dilakukan secara terang-terangan.
“Rezim Maroko tidak hanya bekerja sama dengan militer (Israel) tetapi juga mengumbarnya di depan umum tanpa rasa malu, sejujurnya saya tidak bisa berkata apa-apa untuk itu,” ujar Yassir Abbadi, dari Front Maroko untuk Dukungan Palestina dan Menentang Normalisasi, kepada Middle East Eye (MEE).
Foto-foto tentara Israel di Maroko menuai kritik pedas di internet, termasuk satu foto yang memperlihatkan pasukan dari Brigade Golani mengibarkan bendera Israel dan lambang batalion mereka selama latihan.
Pada akhir Maret, pasukan dari Brigade Golani terlibat dalam pembunuhan 15 pekerja darurat Palestina di Gaza dan menggali kuburan massal untuk menutupi kejahatan tersebut.
Menanggapi foto tersebut, Francesca Albanese, pelapor khusus PBB untuk Palestina, meminta Rabat menegakkan supremasi hukum dan menangkap para tentara Israel dari brigade tersebut.
“Jika dikonfirmasi, ini akan menandai ambang batas baru kebejatan dan pelanggaran kewajiban internasional untuk menyelidiki dan mengadili individu yang terlibat dalam kejahatan kekejaman,” papar dia.
Sementara itu, warga Israel merayakan kehadiran mereka di negara Afrika Utara tersebut.
Satu video viral memperlihatkan dua tentara Israel, satu orang mengenakan thobe Maroko, keluar dari kendaraan militer dan menari untuk merayakan.
Secara terpisah, dilaporkan dua tentara Israel yang terlibat dalam latihan tersebut terluka di Maroko selama kecelakaan mobil.
Mengabaikan Rakyat
"Kita harus membedakan dengan jelas antara penduduk Maroko dan pihak berwenang, dengan Raja Mohamed VI sebagai pemimpinnya," ujar Abdelkader Abderrahmane, pakar independen tentang keamanan dan geopolitik Afrika Utara.
"Penduduk Maroko secara umum selalu menunjukkan dukungannya terhadap rakyat Palestina dan penderitaan mereka di Gaza," papar dia kepada MEE.
Ia mengutip protes yang sering terjadi selama dua tahun terakhir, serta aksi langsung bulan lalu ketika serikat pekerja pelabuhan Tangier menolak membongkar atau melayani kapal berbendera Denmark yang menuju Israel.
“Maersk Nexoe datang dari AS, membawa serta suku cadang untuk jet tempur F-35 ke Israel,” ungkap Abderrahmane.
Survei Arab Barometer pada bulan Januari menemukan, dukungan Maroko untuk normalisasi dengan Israel turun dari 31% pada tahun 2022 menjadi hanya 13% pada tahun 2023 dan 2024.
Bagi Abbadi, pesannya jelas. “Negara melakukan apa yang diinginkannya tanpa menghiraukan keinginan mayoritas rakyat,” ungkap dia.
Dia menjelaskan, “Begitulah normalisasi terjadi sejak awal. Ini kediktatoran, begitulah cara rezim otoriter berperilaku.”
Meskipun ditentang publik secara luas, kerja sama antara Maroko dan Israel terus berkembang.
Kedua negara menormalisasi hubungan pada tahun 2020 berdasarkan perjanjian yang ditengahi AS yang juga membuat Washington mengakui kedaulatan Maroko atas Sahara Barat, wilayah sengketa yang dikuasai Rabat sejak tahun 1970-an.
Bisnis seperti Biasa meski Ada Genosida di Gaza
Sejak normalisasi, perdagangan antara Maroko dan Israel telah tumbuh pesat, mencapai USD116,7 juta pada tahun 2023, dua kali lipat dari angka tahun sebelumnya.
“Bisnis seperti biasa antara Rabat dan Tel Aviv,” ujar Abderrahmane. “Banyak perjanjian kerja sama telah ditandatangani antara keduanya, di bidang energi, teknologi, perdagangan, dan banyak lainnya.”
Dia mengutip perusahaan Israel Netafim dan Gala Energy yang berinvestasi dalam proyek irigasi dan energi terbarukan Maroko, serta izin pengeboran gas lepas pantai yang diberikan kepada konsorsium Maroko-Israel di dekat Kepulauan Canary.
Kerja sama persenjataan dan intelijen juga berkembang.
Pada bulan Februari, Maroko memilih Elbit Systems Israel sebagai salah satu pemasok senjata utamanya.
“Rasanya sangat disayangkan untuk mengatakan ini, tetapi hubungan militer antara kedua rezim telah meluas karena genosida Gaza,” papar Abbadi, mengutip kesepakatan senjata dan kapal-kapal yang membawa senjata Israel berlabuh di pelabuhan Maroko.
Abderrahmane menambahkan Maroko hampir mencapai kesepakatan senilai USD1 miliar untuk membeli satelit mata-mata dari Israel Aerospace Industries.
Itu akan menambah akuisisi sebelumnya atas perangkat lunak Pegasus milik NSO Group Israel, yang digunakan untuk memata-matai para aktivis, jurnalis, dan bahkan politisi asing Maroko, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron.
“Kerja sama militer yang erat ini pada akhirnya akan membawa lebih banyak ketidakstabilan ke wilayah Afrika Utara-Sahel yang lebih luas,” ungkap Abderrahmane.
Ignacio Cembrero, jurnalis Spanyol yang mengkhususkan diri dalam urusan Maroko, mengatakan istana kerajaan Maroko telah mengambil risiko dengan menentang arus publik.
“Israel harus menjadi sekutu yang berharga dalam perlombaan senjata dengan negara tetangga Aljazair. Ini juga merupakan langkah yang diperlukan untuk memperdalam hubungan dengan Amerika Serikat,” ungkap Cembrero kepada MEE.
Dia menjelaskan, “Israel mengandalkan Washington untuk menggerakkan masyarakat internasional dalam masalah Sahara Barat.”
Aljazair, yang berselisih dengan Maroko terkait Sahara Barat dan sejumlah masalah lainnya, memboikot latihan African Lion.
Meskipun Aljazair belum berbicara secara terbuka tentang masalah tersebut, para analis telah berspekulasi keterlibatan Israel dalam latihan tersebut mungkin merupakan faktor penyebabnya.
Abbadi mengatakan semua ini tidak mengejutkannya, kontak militer antara Maroko dan Israel telah terjadi sebelum normalisasi selama beberapa dekade.
“Kita tahu bahwa Raja Hassan II membantu Israel memenangkan Perang Enam Hari dengan memberikan informasi penting tentang negara-negara Arab,” ungkap dia, mengacu pada perang tahun 1967.
“Bahkan genosida yang disiarkan langsung dan ribuan potongan tubuh di jalan-jalan Gaza tidak akan membuat rezim Maroko gentar atau mempertimbangkan untuk memutus hubungan, atau setidaknya menyembunyikannya,” pungkas dia.
Baca juga: Hamas Menentang Keras Pemindahan Para Pemimpinnya dari Gaza (sya)