JAKARTA - Fakultas Teknik
Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ) menggelar “Gebyar Technopreneurship 2025” sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-61. Kegiatan ini menampilkan berbagai inovasi teknologi dan kreativitas mahasiswa.
Rektor UNJ, Prof. Komarudin, dalam sambutannya saat membuka acara menyampaikan bahwa setiap karya yang dipamerkan memiliki potensi besar untuk dihilirisasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat serta dunia industri sehingga UNJ terus meningkatkan komitmennya untuk menjadi kampus berdampak.
Baca juga: Pengusaha Muda asal Lampung Ini Raup Miliaran Rupiah lewat Inovasi Digital “Setiap karya yang ditampilkan dalam “Gebyar Technopreneurship 2025” kali ini berpotensi untuk disempurnakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Ini adalah langkah awal menuju hilirisasi hasil riset dan inovasi untuk kampus berdampak,” ujar Prof. Komarudin, melalui siaran pers, Kamis (5/6/2025).
Prof. Komarudin menambahkan bahwa Subdirektorat Inovasi dan Hilirisasi UNJ memiliki peran penting dalam menyinergikan karya mahasiswa dengan kebutuhan industri, sehingga dapat melahirkan produk unggulan yang berdampak nyata.
“Saya berharap karya-karya mahasiswa dapat disempurnakan melalui Subdirektorat Inovasi dan Hilirisasi, agar dapat terhubung langsung dengan dunia industri,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof. Komarudin menekankan bahwa kegiatan ini sejalan dengan tagline Kemdiktisaintek, yaitu “Berdampak”, yang menekankan pentingnya kontribusi nyata pendidikan tinggi terhadap masyarakat, bangsa, dan negara.
Sementara itu, Dekan FT UNJ, Prof. Neneng Siti Silfi Ambarwati, menjelaskan tema “Transformasi Teknologi dan Pendidikan: Penguatan Eksplorasi Kreativitas dan Pengetahuan sebagai Wujud Kemandirian" selaras dengan arah kebijakan nasional dalam memperkuat hilirisasi riset dan kolaborasi lintas bidang ilmu.
“Technopreneurship merupakan mata kuliah wajib di FT UNJ dengan bobot 2 SKS. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menunjukkan hasil pembelajaran di kelas, tetapi juga bertransformasi menjadi inovator dan calon wirausahawan teknologi,” jelas Prof. Neneng.
(nnz)