JAKARTA - Mantan Gubernur Jakarta
Anies Baswedan menjadi khatib
salat Iduladha di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (6/6/2025). Salah satu poin dalam khotbahnya, Anies mengingatkan tentang kesetaraan.
"Hari ini kita berkumpul merayakan Iduladha, Hari Raya Kurban yang mengajarkan kita tentang ketundukan kepada Allah, tentang kepedulian kepada sesama," ujar Anies.
Dia mengatakan, di saat yang sama pada saat jemaah melaksanakan salat id di Masjid Agung Al Azhar, jutaan jemaah haji sedang menjalankan rukun haji di Tanah Suci. Mereka berdiri di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina, semuanya dalam kesetaraan mutlak di hadapan Allah.
Baca juga: Suasana Salat Iduladha 2025 di Masjid Agung Al Azhar dan Balai Kota Jakarta "Saat ini, kita menyaksikan jutaan manusia berpakaian ihram di Tanah Suci, kita disadarkan pada hakikat kemanusiaan, semua setara, tidak ada pembesar dan rakyat kecil, tak ada raja tak ada hamba sahaya, tak ada kaya tak ada miskin, hanya semua manusia di hadapan Allah," tuturnya.
Anies menerangkan, semua jemaah haji mengenakan dua helai kain putih dan menyeru Labaik Allahumma Labaik. Namun, sekembalinya dari haji, sekembalinya ke kota-kota, seperti di Indonesia, di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, kesetaraan itu seolah menguap.
"Di satu sisi restoran mewah dengan penuh pengunjung, di sisi lain anak-anak memeluk sampah demi sesuap nasi. Mobil-mobil mewah melintas di jalan yang sama dengan gerobak pedagang sayur yang mulai bekerja sebelum subuh," jelasnya.
Dia menerangkan, itu bukan pemandangan di negeri asing, itu adalah pemandangan di halaman rumah sendiri, sementara kota selalu menjadi tanda dari kesehatan dari peradaban lebih luas. Dalam sejarah Islam, peradaban di bangun dan diawali dengan menata ulang sebuah kota, dari Yastrib menjadi kota nabi, menjadi kota yang bercahaya.
"Bahkan seorang cendekiawan muslim tersohor, Al Farabi menyebutkan tingkat peradaban itu bisa dilihat dengan bagaimana kota ditata dan bagaimana kota mencerminkan masyarakatnya," jelasnya.
Dia menambahkan, istilah politik, yang dikenal hari ini berangkat dari istilah yang digunakan orang-orang Yunani untuk menggambarkan bagaimana mengelola kota. Kota yang ditata dengan baik dengan menghadirkan kebaikan dan keadilan adalah tanda peradaban yang sehat.
"Sebaliknya, kota yang ditandai dengan ketidakadilan itu adalah penanda sebuah masyarakat yang sakit. Islam tumbuh besar ketika nabi besar Muhammad SAW memimpin dari sebuah kota, Islam adalah agama yang tumbuh besar di kota dan di kota itulah peradaban Islam dibangun dan menjadi rujukan hingga kini," pungkasnya.
(rca)