JAKARTA - Sakit tenggorokan yang terasa sangat tajam hingga digambarkan seperti disayat silet kini menjadi salah satu
gejala Covid-19 varian nimbus atau dikenal sebagai NB.1.8.1. Ini menandai perbedaan yang signifikan dibandingkan varian sebelumnya.
Para pakar medis menyarankan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan meski varian
Covid-19 ini belum terbukti menyebabkan gejala yang lebih parah.
Nimbus merupakan subvarian terbaru dari keluarga besar Omicron yang telah bermutasi dan mulai menyebar ke-22 negara.
Menurut Dr. Naveed Asif, seorang dokter umum di The London General Practice, varian ini muncul akibat perubahan genetik pada virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19. Mutasi ini, meskipun tergolong wajar dalam siklus hidup virus, telah menimbulkan kekhawatiran karena penyebarannya yang cepat di berbagai negara.
Dr. Chun Tang, seorang dokter umum di Pall Mall Medical, menjelaskan bahwa nimbus pertama kali terdeteksi pada awal tahun 2025 dan sejak itu dilaporkan telah menyebar ke Inggris, Amerika Serikat, China, India, Hong Kong, Thailand, dan Singapura.
Baca Juga: Varian Covid-19 Nimbus Menyebar di 22 Negara, Ini Gejala dan Risiko yang Harus Diwaspadai “Varian ini memiliki sejumlah mutasi pada protein spike-nya, yang memungkinkan virus lebih mudah menginfeksi tubuh atau menghindari kekebalan yang sudah terbentuk sebelumnya,” jelasnya dilansir dari The Independent, Rabu (11/6/2025).
Gejala Covid-19 Varian Nimbus yang Perlu Diwaspadai
Menurut Dr. Asif, salah satu gejala paling mencolok dari varian ini adalah rasa sakit di tenggorokan yang sangat intens. “Beberapa pasien menggambarkannya seperti ada pisau cukur atau silet yang menggores tenggorokan mereka,” ujarnya.
Selain itu, gejala umum lainnya yang juga sering dilaporkan meliputi:
1. Rasa lelah atau kelelahan ekstrem
2. Batuk ringan namun menetap
3. Demam ringan hingga sedang
4. Nyeri otot dan sendi
5. Hidung tersumbat atau meler
Namun, penting dipahami bahwa gejala bisa sangat bervariasi pada setiap individu. Beberapa orang bahkan hanya merasakan gejala ringan, sementara yang lain bisa mengalami gejala lebih kompleks, terutama bagi mereka dengan kondisi kesehatan yang sudah rentan.
Tingkat Penularan dan Risiko
Meskipun varian nimbus ini tidak menunjukkan tanda-tanda menyebabkan penyakit yang lebih parah dibanding varian omicron sebelumnya, namun tingkat penularannya tergolong tinggi. Data awal menunjukkan peningkatan signifikan jumlah kasus di Asia, terutama di India dan wilayah Asia Tenggara lainnya.
Menurut pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga saat ini risiko tambahan terhadap masyarakat global dinilai masih rendah. Namun, pemantauan ketat terus dilakukan, terutama terhadap perubahan perilaku virus dan efikasi vaksin terhadap varian ini.
Baca Juga: WHO Warning Angka Kasus Covid-19 Akibat NB.1.8.1Terus Melonjak Cepat Efektivitas Vaksin dan Pencegahan
Para ahli menyampaikan bahwa vaksin Covid-19 yang ada saat ini, termasuk dosis booster, masih efektif dalam mencegah gejala parah, rawat inap, dan kematian akibat infeksi varian ini. Oleh karena itu, vaksinasi tetap menjadi lini pertahanan utama dalam menghadapi evolusi varian virus.
Varian ini menyebar melalui jalur umum penularan Covid-19, yaitu melalui droplet pernapasan saat orang batuk, bersin, atau berbicara dalam jarak dekat, serta bisa bertahan di udara dalam ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.
Hal ini membuat penggunaan masker di tempat ramai dan ventilasi udara yang baik tetap menjadi bagian penting dari strategi pencegahan.
Langkah Perlindungan yang Disarankan
Untuk mencegah penularan varian nimbus, masyarakat disarankan tetap menjalankan protokol kesehatan berikut:
1. Menghindari kerumunan dan ruang tertutup dengan sirkulasi udara buruk
2. Menggunakan masker saat berada di tempat umum atau transportasi publik
3. Mencuci tangan secara rutin
4. Mendapatkan vaksin dan booster sesuai jadwal
5. Melakukan tes Covid-19 jika mengalami gejala mencurigakan, terutama sakit tenggorokan parah
Baca Juga: Mengenal Varian Baru Covid-19 NB.1.8.1 yang Merebak di 22 Negara (dra)