JAKARTA - Khairunnisa, atau yang akrab disapa Nisa, adalah sosok inspiratif berusia 24 tahun yang berhasil meraih status sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (
CPNS ) di Kementerian Agama (
Kemenag ), meski harus melewati perjalanan hidup penuh tantangan.
Terlahir dari keluarga sederhana, sang ayah bekerja sebagai salesman sekaligus kurir obat di apotek, sementara ibunya menjadi ibu rumah tangga yang membantu ekonomi keluarga dengan menjahit tas bedcover dan menerima pesanan katering aqiqah.
Sejak kecil, Nisa sudah terbiasa memikul tanggung jawab. Di usia 10 tahun, ia mulai mengajar les privat dan mengaji anak-anak sekitar rumah untuk membantu kebutuhan sekolahnya.
Baca juga: Cerita Novia, Wisudawan Terbaik Unnes dengan IPK Tertinggi Meski Menderita Skoliosis Kondisi ekonomi membuatnya sering tertahan ikut ujian karena belum melunasi biaya sekolah, tetapi ia tidak patah semangat. Ia justru membuktikan kemampuan akademiknya dengan menjadi juara umum saat lulus dari SMP.
Kesempatan emas datang saat ia diterima di SMA unggulan milik CT ARSA Foundation Deli Serdang dengan beasiswa penuh—yang mencakup biaya pendidikan, asrama, hingga kebutuhan sehari-hari.
“Kalau bukan karena beasiswa, mungkin saya sudah berhenti sekolah sejak SMP,” ujarnya melansir laman Kemenag, Kamis (19/6/2025).
Baca juga: Kisah Perjuangan Frida, Lulusan Terbaik UNY dengan IPK Tertinggi Perjalanan pendidikannya berlanjut di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, kembali dengan bantuan beasiswa. Usai lulus, ia sempat bekerja di beberapa tempat, namun harus mengalami dua kali pemutusan hubungan kerja dalam waktu singkat. Walaupun terpukul, ia tidak menyerah.
Dalam masa menganggur, Nisa memutuskan mendaftar CPNS. Demi mencukupi kebutuhan harian, ia bekerja menjaga kios es teh di pinggir jalan. Banyak yang memandangnya sebelah mata, bahkan mempertanyakan kenapa seorang sarjana harus menjual es teh.
“Sering ditanya, ‘Kok sarjana jualan es teh?’ Saya cuma bisa senyum. Mereka tidak tahu kalau saya sedang memperjuangkan masa depan yang lebih baik lagi,” katanya.
Baca juga: Lulus Cumlaude dari UGM di Usia 19 Tahun, Mutiara Jadi Wisudawan Termuda Tanpa ikut bimbingan belajar, ia belajar mandiri dari buku dan YouTube. Usahanya membuahkan hasil. Pada Seleksi Kompetensi Dasar (SKD), ia meraih peringkat dua dan melanjutkan ke Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Hingga akhirnya, ia dinyatakan lolos sebagai CPNS untuk formasi Pranata Humas Ahli Pertama di Kemenag RI.
“Saya buka pengumuman di tempat kerja, langsung cari nama pakai nomor peserta. Begitu lihat hasilnya, saya nangis. Saya langsung video call orang tua. Ekspresinya sama, kami semua terharu banget karena ini adalah tes CPNS pertama saya. Alhamdulillah,” tuturnya.
Meski tidak punya alasan spesifik memilih Kemenag, ia meyakini bahwa semua ini bagian dari rencana Tuhan. Ia memegang teguh keyakinan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi penyemangat perjuangannya, seperti QS Ghafir ayat 60 dan QS Al-Ankabut ayat 69.
Kini, ia berharap keberhasilannya menjadi awal perubahan nasib bagi keluarganya. Ia ingin membalas semua pengorbanan orang tua dan membuka jalan lebih baik untuk adik-adiknya.
“Kelulusan ini bukan hanya milik saya. Ini untuk orang tua saya, untuk keluarga saya, dan untuk semua yang pernah diremehkan karena hidupnya serba kekurangan,” katanya sambil tersenyum.
Bagi Nisa, kelulusan
CPNS ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan yang lebih besar. Ia percaya, setiap usaha dan doa yang tulus akan menemukan jalannya, sesuai waktu yang telah ditentukan oleh-Nya.
(nnz)