floating-Tionghoa Indonesia Tak...
Tionghoa Indonesia Tak Sama dengan Migran Baru Asal Tiongkok
Tionghoa Indonesia Tak...
Tionghoa Indonesia Tak Sama dengan Migran Baru Asal Tiongkok
Kamis, 26 Juni 2025 - 20:04 WIB
JAKARTA - Dosen Magister Ilmu Komunikasi (Mikom) Universitas Pelita Harapan (UPH) Johanes Herlijanto menekankan adanya perbedaan besar antara migran asal Tiongkok yang baru (yang dikenal dengan istilah migran baru atau Xin Yimin) dengan etnik Tionghoa di Indonesia dan Asia Tenggara.

Hal itu diungkapkan pada seminar berjudul “Peran Migran Baru Tiongkok (Xin Yimin) di Asia Tenggara,” yang diselenggarakan Program Magister Ilmu Komunikasi (Mikom) dan Magister Ilmu Hubungan Internasional (MHI) UPH bersama Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta, Rabu, 25 Juni 2025.

Menurut Johanes, etnik Tionghoa di Indonesia dan Asia Tenggara bukan hanya telah berakar dan beradaptasi, tetapi juga telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi kawasan tempat mereka menetap selama berabad-abad.

Baca juga: Tionghoa dalam Pendidikan Sejarah di Indonesia

“Tionghoa Indonesia, misalnya, telah memberikan sumbangsih yang signifikan bagi bangsa Indonesia. Mereka adalah orang Indonesia yang selalu mengedepankan identitas kebangsaan Indonesia,” ujar pemerhati Tionghoa ini.

Dia berpandangan bahwa sikap mengedepankan ke-Indonesia-an itu terlihat dalam pengamatan terhadap berbagai individu dan kelompok muda Tionghoa dalam aktivitas media sosial mereka belakangan ini.

Generasi muda Tionghoa di atas cenderung menekankan bahwa mereka adalah Tionghoa Indonesia dan tak dapat disamakan dengan orang-orang asal Tiongkok ataupun penduduk Tiongkok daratan. Meski terdapat kemiripan dalam hal budaya dan daerah asal leluhur keduanya yaitu daratan Tiongkok.

Johanes mengimbau agar sikap tersebut dipertahankan dan didukung oleh masyarakat Indonesia yang menyokong kehadiran Indonesia yang multikultural.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPH Profesor Edwin Martua Bangun Tambunan menyatakan studi migrasi, termasuk migrasi asal Tiongkok di abad ke 21 ini adalah simpul dari dinamika besar dunia.

“Tanpa memahami fenomena migrasi, kita tidak bisa memahami dunia,” tutur guru besar dalam bidang ilmu keamanan dan perdamaian itu.

Profesor Leo Suryadinata yang juga pembicara menilai istilah migran yang belakangan ini digunakan untuk merujuk pada warga asal Tiongkok yang datang ke Indonesia dan Asia Tenggara dalam beberapa dasawarsa terakhir merupakan istilah yang rancu dan cenderung menimbulkan problem baik dalam aspek akademis maupun aspek sosial.

Hal ini karena istilah migran disematkan kepada orang-orang asal Tiongkok yang sebenarnya datang untuk sementara waktu ke negara tujuan, entah sebagai pekerja, pelajar, pebisnis, atau kegiatan-kegiatan lainnya.

Mereka datang untuk sementara dan dalam kelompok relatif besar, mereka tak dapat diharapkan untuk melakukan proses adaptasi dalam hal sosial dan budaya seperti pendahulu mereka yaitu etnis Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk orang-orang Tionghoa Indonesia.

Leo yang juga peneliti senior ISEAS Yusof Ishak Institute Singapura itu mengemukakan berbagai karakteristik dari migran baru asal Tiongkok (yang dalam Bahasa Mandarin disebut dengan istilah Xin Yimin) yang dalam anggapannya jauh berbeda dari karakteristik etnis Tionghoa di Asia Tenggara dan Indonesia yang disebut migran lama.

Berbeda dari etnik Tionghoa yang sudah berakar di Asia Tenggara dan Indonesia, migran baru asal Tiongkok tidak datang untuk menetap. Menurut Leo, mereka menjadikan negara-negara tujuan sebagai tempat untuk transit dalam proses migrasi yang bersifat sementara.

Karena itu, mereka tak lagi berpegang pada istilah luodi shenggen (berakar di tanah yang mereka pijak) dan cenderung berpindah-pindah seperti daun teratai yang tak berakar.

“Karena mereka datang dengan jumlah besar, mereka akan berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama kelompok mereka, sehingga proses integrasi antara mereka dan masyarakat setempat menjadi sangat sulit,” kata Leo yang juga ahli Hubungan Internasional sekaligus pemerhati Tionghoa Asia Tenggara kenamaan ini.

Kesulitan berintegrasi dengan masyarakat setempat itu menjadi sebuah persoalan yang muncul akibat kehadiran migran baru asal Tiongkok. Persoalan lain yang muncul adalah kegiatan mereka yang terkait dengan berbagai proyek investasi dari Tiongkok.

Namun, dia berpesan agar para peneliti tak melupakan bahwa proyek-proyek tersebut sebenarnya membawa pula hasil positif. “Transfer teknologi dari Tiongkok yang secara biaya cukup murah adalah salah satu dampak positif dari datangnya migran baru dari Tiongkok,” ungkap Leo.

Dia pun mengingatkan terdapat pula dampak negatif yang tak kalah penting seperti kerusakan lingkungan akibat pertambangan, kurangnya pelibatan tenaga kerja lokal dalam proyek-proyek asal Tiongkok akibat faktor bahasa, serta fenomena perjudian online yang melibatkan orang-orang asal Tiongkok yang membentuk sindikat lintas negara di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Laos, Myanmar, dan Filipina.

Menimbang dampak positif dan negatif di atas, Leo beranggapan bahwa fenomena migran baru asal Tiongkok harus dikaji dengan sebuah pendekatan baru yang meskipun tetap kritis, tetapi tanpa bersifat apriori.

Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Triyono sependapat dengan Profesor Leo Suryadinata dalam hal dampak positif dan negatif dari kehadiran investasi dan migran baru asal China.

“Kehadiran industri smelter di Sulawesi Tengah dan Tenggara menghidupkan perekonomian di daerah tersebut, ini hal yang jarang diungkap ke publik,” ucapnya.

Namun, sosiolog tamatan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu juga menuturkan mengenai adanya persoalan budaya yang diakibatkan kehadiran migran baru asal Tiongkok.

Persoalan itu antara lain mencakup miskomunikasi, mispersepsi, serta praduga antara migran asal Tiongkok dan masyarakat setempat, yang dalam pandangannya berpotensi memunculkan konflik.

Dalam pandangan Triyono, untuk meredakan konflik yang pernah ada serta mencegah terjadinya konflik di masa mendatang perlu dilaksanakan berbagai upaya.

“Di antaranya upaya membangun lembaga kerja sama sebagai wadah diskusi untuk mengatasi masalah dalam relasi kerja, memfasilitasi adaptasi sosial budaya tenaga kerja Tiongkok agar memahami tradisi dan budaya lokal, serta meningkatkan implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap komunitas lokal, seperti dalam aspek pengelolaan limbah dan upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya.
(jon)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
UMB Perkuat Diplomasi...
UMB Perkuat Diplomasi Kreatif Indonesia-Tiongkok, Pamerkan 100 Karya Desain Merek Inovatif
Mahasiswa dan Pekerja...
Mahasiswa dan Pekerja Asing Kini akan Dipaksa Tinggalkan AS untuk Ajukan Green Card
Kerja Sama dengan Foshan...
Kerja Sama dengan Foshan Polytechnic Tiongkok, Universitas Bakrie Perluas Jejaring Global
Antara One China Policy...
Antara One China Policy dan Dua Realitas Politik