JAKARTA - Kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu)
Arya Daru Pangayunan atau ADP (39) hingga kini masih belum terungkap. Dugaan ADP menjadi korban pembunuhan diungkapkan teman dekatnya Arman Christian.
Arman Christian menuturkan, pernah sama-sama bertugas bersama ADP di KBRI Myanmar pada 2012 hingga Januari 2014 mengaku, kaget saat mendengar kabar kematian rekannya. Awalnya, dirinya dan teman-teman eks KBRI Yangon mengira almarhum meninggal karena sebab alami, seperti sakit.
"Saya kaget, awalnya kita pikir meninggal secara natural, karena sakit. Kita turut berduka cita," ujar Arman dalam wawancara ekslusif dengan Lukman Hakim dari SindoNews TV, Kamis (24/7/2025).
Baca juga: Teman-teman Dekat Curiga Diplomat Arya Daru Dibunuh Namun, Arman mengaku kaget ketika pemberitaan di sejumlah media menyebutkan almarhum ditemukan tewas dalam kondisi tidak wajar di kos-kosannya.
“Kemudian enggak lama setelah itu muncul berita di media, diberitakan ditemukan jenazah di kos-kosan di Gondangdia itu inisialnya ADP, usia 39 tahun berarti itu Mas Arya Daru dong. Berarti meninggalnya tidak wajar,” katanya
Baca juga: Polisi Bongkar Kresek yang Dibuang Diplomat Kemlu Arya Daru sebelum Tewas, Ini Isinya Arman menegaskan dirinya bersama rekan-rekannya yakin ADP menjadi korban pembunuhan berencana.
“Bukan hanya saya pribadi, teman-teman yang lain berpikiran yang sama. Ini pasti ada tindakan pembunuhan. Pembunuhan yang sangat berencana rapi, teroganisir lah istilahnya. Sedangkan, kalau ada yang bilang bunuh diri, itu saya tidak yakin, kemudian ada lagi opini baru tindakan fetish itu juga saya tidak yakin,” ucapnya.
Arman menyebut almarhum sebagai sosok yang baik dan profesional selama bekerja bersama di KBRI Myanmar. "Saya pernah tinggal satu compound bahkan satu kamar dengan almarhum selama hampir setahun. Tidak pernah ada gelagat aneh atau kecurigaan seperti yang diberitakan di media, soal tindakan fetish atau kelainan seksual. Saya tidak melihat itu sama sekali," tegasnya.
Menurut Arman, ADP justru dikenal sebagai sosok yang membantu banyak rekan kerjanya. "Almarhum mulai bertugas di KBRI Myanmar sejak 2011, saya baru masuk 2012. Dia banyak membantu saya dalam pekerjaan, berbagi pengalaman, bahkan mengajari teknik fotografi karena dia hobi fotografi. Saya banyak belajar dari dia," ungkapnya.
(cip)