JAKARTA - Profil
dosen ITB Imam Santoso menarik untuk diulas. Imam rajin bikin konten dan juga blusukan ke tempat-tempat terpencil untuk membantu anak muda yang kekurangan agar bisa kuliah.
Jika melihat Instagramnya, unggahannya dipenuhi dengan profil anak-anak muda dari keluarga miskin yang mematahkan stigma keterbatasan ekonomi menghalangi untuk bisa kuliah tinggi.
Baca juga: Pendidikan Tom Lembong, Lulusan Harvard yang Melawan Vonis 4,5 Tahun Penjara Ada Devi Donat, alumni
ITB yang viral karena pernah tinggal di atas got namun berhasil kuliah di ITB, raih beasiswa, dan akhirnya menjadi konsultan sampai mampu membelikan dua rumah untuk keluarganya.
Foto/Instagram Imam Santoso
Ada juga Iqbal anak tukang bangunan dari Bengkulu yang awalnya sempat dicibir tidak mungkin bisa menjadi seorang
mahasiswa tetapi sukses menembus ketatnya persaingan Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia (UI).
Baca juga: ITS Buka Lowongan Dosen Tetap Non-PNS 2025, Kirim Lamaran di Sini Lahir dari Keluarga Sederhana di Jember
Imam Santoso lahir di Jember, Jawa Timur. Sejak usia dini, ia sudah menghadapi berbagai kesulitan hidup. Kedua orang tuanya buta huruf, dan sejak kecil ia diasuh oleh sang nenek yang sangat menekankan pentingnya pendidikan. Imam kecil bahkan pernah mengalami masa sulit, di mana makanan sehari-hari hanya berupa nasi dengan minyak jelantah bekas menggoreng ikan asin.
Baca juga: Kukuhkan Iswanto Sucandy sebagai Anjunct Profesor, FK Unair Siap Kembangkan Bedah Robotik “Minyaknya itu kan masih ada aromanya, jadi kalau ikan asinnya habis, ya sudah, makan pakai minyaknya saja. Tapi kami tetap bahagia,” ungkap Imam dalam sebuah wawancara, dikutip dari Instagramnya, Jumat (25/7/2025).
Namun menurutnya, kondisi itu tidak boleh berlangsung terus-menerus. “Orang Indonesia tidak boleh seperti itu terus. Nenek saya selalu bilang, kalau kamu ingin sukses ya sekolah. Dan saya percaya itu,” tegas Imam.
Perjalanan Pendidikan Imam Santoso
Semangat belajar Imam telah tumbuh sejak dini. Ia mengenyam pendidikan di lembaga Muhammadiyah mulai dari TK, SD, hingga SMP. Ketika SMP, ia terinspirasi untuk kuliah ke luar negeri setelah menonton peluncuran pesawat N250 oleh BJ Habibie di televisi.
Awalnya Imam bercita-cita menjadi dokter, namun tidak lolos seleksi masuk kedokteran. Ia tidak menyerah. Dengan tekad kuat, Imam pun mendaftar dan akhirnya diterima di ITB Jurusan Teknik Pertambangan.
Di kampus ternama itu, Imam membuktikan kemampuannya. Ia lulus sebagai lulusan terbaik angkatannya dan mendapat kehormatan menyampaikan pidato kelulusan pada tahun 2007.
Raih Beasiswa ke Australia dan Finlandia
Setelah lulus dari ITB, Imam berhasil meraih beasiswa Australian Development Scholarship (kini Australia Awards Scholarships) untuk melanjutkan studi S2 di University of Queensland, Brisbane, Australia.
Tak berhenti di situ, dua tahun kemudian ia kembali meraih beasiswa LPDP untuk studi S3 di Aalto University, Finlandia pada tahun 2014. Di tengah-tengah masa studi S3-nya, Imam juga mulai berkarier sebagai dosen di Jurusan Teknik Metalurgi ITB.
(nnz)