MALANG - Puncak perayaan Festival Kali Brantas #4 dalam rangka memperingati Hari Sungai Nasional digelar meriah dan penuh makna di Kampung Warna-Warni Jodipan, Kota Malang, pekan lalu. Acara yang berlangsung dari siang hingga malam merupakan event pamungkas dari rangkaian panjang perayaan lintas kawasan, dari hulu ke hilir, yang melibatkan tujuh kampung tematik di Kota Malang.
Festival ini menyuguhkan kekayaan budaya lokal yang berpadu dengan semangat
pelestarian lingkungan . Pengunjung disambut dengan Dolanan Lempung Brantas dari Kampung Keramik Dinoyo dan Grabah Penanggungan, serta kampanye "Nyanyian Kali Brantas" yang digelar serentak di Kampung Tridi, Kampung Putih, Kampung Lampion, dan Kampung Warna-Warni.
Baca juga: Festival Kali Brantas, Petik Tirta Amerta di Titik 0 Sumber Brantas Jadi Pembuka Suasana makin semarak dengan alunan musik angklung dari Kampung Budaya Polowijen, serta penampilan memukau dari Miben Voice Group, anak-anak Supit Urang yang menyanyikan lagu dolanan bertema lingkungan.
Berbagai bentuk seni tari, mulai dari topeng Malangan, tari kreasi tradisi hingga tari modern, menghiasi panggung kampung, mengundang antusiasme pengunjung dan puluhan turis wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kampung Warna Warni. Para wisatawan memanfaatkan event tersebut mendokumentasikan setiap momentum perayaan.
Pengelola Kampung warna Warni, Agus Kodar mengaku bangga dan senang sebagai tuan rumah penyelenggaraan Festival Kali Brantas #4 di Kampung Warna Warni. "Hampir tiap hari 300-an turis datang ke kampung ini. Dan kita informasikan ada festival, alhamdulilah mereka datang kembali dan terlibat di event ini," katanya.
"Kami patut menghaturkan beribu terima kasih pada semua kampung tematik, para pengelola kampung, dan pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan event itu," imbuhnya.
Malam harinya, festival ditutup dengan ritual Nyadran Kali Brantas dan Ruwatan Wayang Topeng "Ronggeng Kali Brantas". Sebuah pentas seni sakral di tepi sungai sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan dan pemulihan ekologi sungai. Nyadran dipimpin oleh Ki Lelono dan Ibu Omie Solekhan, dengan tabur bunga dan atraksi penari Danyang, sebagai simbol permohonan keselamatan dari bencana banjir.
Kemudian dilanjutkan dengan ruwatan oleh Dalang Ki Dio Akbar, dimulai dari suluk, japa mantra, hingga tembang ruatan, lalu ditampilkan lakon "Ronggeng Tangis Kali Brantas", yang menggambarkan kesedihan sungai akibat rusaknya ekosistem akibat ulah manusia.
Makna mendalam Festival Kali Brantas #4 disampaikan oleh penggagas Festival sekaligus Ketua Pokdarwis Kota Malang, Isa Wahyudi. Ki Demang sapaan akrab Isa Wahyudi mengatakan, penampilan wayang topeng di pinggir kali Brantas ini adalah bentuk happening art yang menggabungkan ekspresi seni, spiritualitas, dan kepedulian ekologi.
"Wayang topeng ini adalah penggambaran tangisan dari Brantas, suara dari alam yang selama ini kita abaikan. Festival ini bukan hanya panggung hiburan, tapi ruang kontemplasi kolektif tentang hubungan manusia dengan air sebagai sumber kehidupan," terang Ki Demang.
Festival Kali Brantas #4 tahun ini menjadi yang terbesar, digelar lintas kawasan, mulai dari Petik Tirta Amerta di hulu Sumber Brantas, Arboretum Kota Batu (25 Juli), dilanjutkan dengan Kenduren dan Larung Sesaji di Kampung Grabah Penanggungan (26 Juli), dan puncaknya pada (27 Juli) dengan aksi bersih-bersih Rijik-Rijik Kali Brantas yang dilakukan serempak di tujuh kampung: Kampung Keramik Dinoyo, Grabah Penanggungan, Kampung Putih, Tridi, Warna-Warni, Lampion, hingga Kampung Biru Arema.
Baca juga: Kampung Warna-Warni di Indonesia, Mungkin Salah Satunya Ada di Kotamu "Festival ini adalah perwujudan gotong royong, gugur gunung masyarakat lintas kampung dalam menjaga dan meruwat sungai sebagai nadi kehidupan. Kali Brantas tidak lagi sekadar aliran air, tapi juga ruang budaya, spiritualitas, dan solidaritas ekologis," jelas Ki Demang.
Adapun Festival Kali Brantas #4 didukung oleh komunitas kampung tematik, pegiat budaya, pokdarwis, dan pelaku seni tradisi se-Malang Raya. "Kami berharap, peringatan hari Sungai Nasional tidak berhenti di seremoni, tapi menjadi gerakan nyata menjaga sungai sebagai warisan bersama," tandas Ki Demang.
(poe)