MALAYSIA - Selama bertahun-tahun, Indonesia dengan populasi raksasanya selalu menjadi raja pasar otomotif di Asia Tenggara. Namun, sebuah era baru telah dimulai. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, takhta tersebut kini direbut oleh Malaysia, menandai pergeseran kekuatan yang signifikan di kawasan ini.
Lanskap otomotif ASEAN pada kuartal kedua 2025 menunjukkan dinamika yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Nikkei Asia, pasar mobil regional kini memasuki babak baru, di mana Malaysia memimpin, Thailand menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dan Vietnam bersiap untuk menyalip Filipina, sementara beberapa pabrikan Jepang mulai mengurangi operasionalnya.
Perubahan paling dramatis adalah keberhasilan Malaysia melampaui Indonesia dalam penjualan mobil, sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat populasi Indonesia (280 juta jiwa) jauh melampaui Malaysia (34 juta jiwa).
Fenomena ini menjadi cerminan dari berbagai faktor ekonomi dan industri yang tengah membentuk ulang peta persaingan di Asia Tenggara.
Kekuatan Merek Nasional dan Ledakan EV di Malaysia
Kunci keberhasilan Malaysia terletak pada kekuatan dua merek mobil nasionalnya, Perodua dan Proton, yang secara kolektif mendominasi hingga 63% dari total penjualan pada paruh pertama tahun ini.
Dukungan dari raksasa otomotif seperti Daihatsu (anak perusahaan Toyota) dan Geely (pemegang 49,9% saham Proton) semakin memperkokoh posisi kedua merek tersebut.
Selain itu, pasar Malaysia juga didorong oleh ledakan popularitas electric vehicles (EV) dan mobil hibrida.
Penjualan EV di negara tersebut melonjak 91% dari tahun ke tahun, mencapai 12.733 unit, sementara penjualan mobil hibrida tumbuh 12% menjadi 17.480 unit pada semester pertama 2025.
Tekanan Ekonomi dan Melemahnya Daya Beli di Indonesia
Di sisi lain, Indonesia justru menghadapi tekanan ekonomi yang berdampak langsung pada sektor otomotifnya. Penjualan mobil pada bulan Juni anjlok 21%, sebuah penurunan signifikan pertama sejak Maret 2024, yang menyebabkan total penjualan pada kuartal kedua merosot 12%.
Para ekonom dari Bank Danamon menyatakan bahwa penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya daya beli kelas menengah dan pengetatan syarat kredit konsumen.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pun mengonfirmasi adanya kontraksi signifikan pada populasi kelas menengah, yang turun dari 21,4% pada tahun 2019 menjadi hanya 17,1% pada tahun 2024.
Kebangkitan Vietnam dan Pemulihan Thailand
Sementara itu, negara-negara tetangga menunjukkan tren yang berbeda. Vietnam berada di jalur cepat untuk menjadi pasar mobil terbesar keempat di ASEAN, dengan penjualan pada kuartal kedua 2025 naik 18% menjadi 90.772 unit.
Pertumbuhan PDB yang mencapai 7,52% pada paruh pertama tahun ini, didukung oleh kelas menengah yang terus meningkat dan kekuatan merek EV nasional VinFast, menjadi motor penggerak utamanya.
Thailand, pasar terbesar ketiga di ASEAN, juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Penjualan mobil pada kuartal kedua naik 3,6% menjadi 149.501 unit, menandai kenaikan kuartalan pertama sejak kuartal ketiga 2022.
Pemulihan ini sebagian besar didorong oleh lonjakan penjualan EV yang mencapai 23% dari total penjualan mobil.
Namun, di tengah pemulihan ini, beberapa pabrikan Jepang seperti Honda, Suzuki, dan Nissan justru mengumumkan rencana untuk mengurangi atau merestrukturisasi operasi produksi mereka di Thailand.
Pergeseran dramatis di pasar otomotif ASEAN ini menandakan bahwa lanskap persaingan tidak lagi bisa diprediksi. Faktor-faktor seperti kekuatan merek nasional, kecepatan adopsi EV, dan kesehatan ekonomi domestik kini menjadi penentu utama siapa yang akan memimpin di era baru mobilitasAsiaTenggara.
(dan)