floating-Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Sintong Panjaitan Pimpin Pasukan Senyap Hancurkan PKI
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Sintong Panjaitan Pimpin Pasukan Senyap Hancurkan PKI
Minggu, 10 Agustus 2025 - 07:05 WIB
SOSOK Letjen Jenderal (Letjen) Sintong Panjaitan merupakan salah satu Jenderal Kopassus yang melegenda. Abituren Akademi Militer Nasional (kini menjadi Akademi Militer) 1963 itu pernah memimpin pasukan untuk operasi mengatasi Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

Kisah Jenderal Kopassus...


Saat itu, PKI berusaha melakukan kudeta dengan membunuh Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani dan sejumlah jenderal senior lainnya. Jasad para Pahlawan Revolusi ini dibuang ke Lubang Buaya. Setelah tragedi berdarah tersebut, pada 1 Oktober 1965 diadakan rapat di Markas Kostrad, Jakarta Pusat.

Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Letjen Sutiyoso Menyamar Jadi Sopir untuk Tangkap Pimpinan GAM di Pedalaman Aceh

Pertemuan menyepakati Mayjen TNI Soeharto mengambil alih sementara komando Angkatan Darat (AD). Selanjutnya, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo diminta bergerak menuju Kostrad dengan panser.

Kisah Jenderal Kopassus...


Penulis Hendro Subroto dalam buku berjudul "Sintong Panjaitan: Perjalanan Prajurit Para Komando" menceritakan langkah pertama Sarwo Edhie setelah berkoordinasi dengan Soeharto adalah merencanakan operasi merebut kembali Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat dan Kantor Besar Telekomunikasi yang dikuasai PKI.

Baca juga: Kisah Tak Terduga Jenderal Kopassus AM Hendropriyono Bertemu Eks Musuh di Rimba Kalimantan Bong Kee Chok

Sarwo Edhie memberikan perintah melalui Mayor CI Santoso kepada Lettu Inf Feisal Tanjung, yang kemudian diteruskan kepada Sintong Panjaitan yang saat itu menjadi Komandan Peleton 1 Kompi Tanjung, diberi tugas menjaga Markas Kostrad tersebut.

Sintong ditugasi merebut RRI dari PKI dalam waktu sesingkat-singkatnya. “Tong, kamu rebut RRI. Tutup mulut mereka yang mendukung Dewan Revolusi, kuasai secepatnya dan laporkan ke saya di Makostrad,” kata Feisal Tanjung kepada Sintong kala itu.

Saat itu, PKI telah menguasai RRI dan menggunakan stasiun radio ini untuk menyebarkan propaganda serta mengumumkan Dekrit Nomor 1 tentang pembentukan Dewan Revolusi Indonesia di bawah pimpinan Letkol Untung.

Dekrit ini menjadi alat utama PKI untuk menyebarkan pesan kudeta mereka. Sintong memimpin peletonnya bergerak menuju RRI melalui Lapangan Silang Monas. Pasukan RPKAD berjalan kaki di belakang Peleton 1 Kompi Ben Hur.

Saat itu dia ditugasi merebut Kantor Besar Telekomunikasi. Ketika pasukan Sintong mendekati gedung RRI, salah satu anggota peleton menembakkan tiga peluru dari senapan AK-47, membuat para penjaga PKI di sana kabur tanpa perlawanan.

Penyerbuan berlangsung cepat dan mulus. Pasukan RPKAD berhasil mengambil alih RRI, menangkap kru radio serta beberapa orang yang terlibat. Sintong kemudian melapor kepada Feisal Tanjung di Markas Kostrad.

Namun, laporan ini sempat membuat Kolonel Sarwo Edhie marah. “Apa? RRI sudah diduduki? Coba kamu periksa lagi semua ruangan!” kata Sarwo Edhie. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata ada tape recorder yang masih menyala, menyiarkan propaganda PKI.

Hampir saja Sintong menghancurkan alat tersebut, namun seorang pegawai RRI menghentikannya dan mematikan tape recorder secara manual. Peristiwa ini kemudian menjadi bahan lelucon di kalangan para perwira RPKAD yang datang ke RRI. Sintong bahkan mendapat olok-olok dari Sarwo Edhie yang berkata, “Ah, kau orang kampung!”

Kudeta PKI Digagalkan



Upaya kudeta yang dilakukan PKI dengan menculik dan membunuh para pimpinan Angkatan Darat adalah bagian dari rencana besar mereka untuk menjadikan Indonesia sebagai negara komunis.

PKI, yang menjadi salah satu pemenang Pemilu 1955, berusaha merebut kekuasaan dengan berbagai cara, termasuk mendorong pembentukan Angkatan Kelima, yaitu mempersenjatai buruh dan petani.

Usulan ini ditentang keras oleh Jenderal Ahmad Yani dan para jenderal Angkatan Darat lainnya. Namun, sejarah mencatat bahwa kudeta PKI ini berakhir dengan kegagalan. Pada 12 Maret 1966, Presiden Soeharto secara resmi membubarkan PKI dan menyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh Indonesia.

Sementara itu dalam karier militernya, Sintong Panjaitan pernah menjadi Danjen Kopassus, Danpussenif, Pangdam Udayana, hingga Panglima Komando Operasi Militer Kolakops/Koopskam/Teritorial TNI di Timor Timur.
(shf)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
4 Prajurit TNI Penyiram...
4 Prajurit TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Ajukan Banding
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Hakim Sebut Andrie Yunus...
Hakim Sebut Andrie Yunus Rendahkan Wibawa Pengadilan karena Tak Pernah Hadiri Sidang
4 Prajurit TNI Penyiraman...
4 Prajurit TNI Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Divonis 1,5-3 Tahun Penjara, 2 Dipecat