JAKARTA - Penyakit tulang belakang mulai menyerang mereka yang berusia 30-an. Salah satunya karena mereka terlalu lama duduk dan malas gerak alias mager.
Faktor lainnya adalah obesitas. Bisa juga akibat cedera fisik seperti patah tulang, cedera otot, atau cedera ligamen dapat menyebabkan kerusakan pada tulang belakang, degenerasi seperti osteoarthritis atau degenerasi disk intervertebral yang menyebabkan penurunan kualitas jaringan tulang belakang.
Gejalanya pun dapat bervariasi, tergantung pada jenis dan lokasi kondisi tersebut, seperti nyeri punggung atau leher, lekakuan pada area tulang belakang yang terkena, yang dapat membatasi gerakan tubuh atau kesemutan di tangan, kaki, atau tubuh bagian lainnya.
Dwkikian dengan pengobatan penyakit tulang belakang. Ini dapat bervariasi, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan kondisi tersebut. Salah satunya teknik endoskopi biportal yang kini semakin diminati secara global karenakeunggulannya yang minim invasif.
Namun, di Indonesia, cara ini masih belum bisa dilakukan banyak dokter. Itu sebab, Rumah Sakit Jakarta menggelar pelatihan untuk pertama kalinya dalam tajuk “1st Biportal Endoscopic Spine Course in Indonesia”.
Pelatihan ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan teknik bedah tulang belakang, khususnya teknik endoskopi biportal yang kini semakin diminati secara global karena keunggulannya yang minim invasif.
Pelatihan ini menawarkan kesempatan unik bagi para dokter spesialis bedah saraf untuk mempelajari secara langsung teknik-teknik operasi terkini dari para ahli bedah yang telah berpengalaman dalam prosedur Biportal Endoscopic Spine Surgery (BESS).
Workshop yang berlangsung di RS Jakarta, di mana peserta tidak hanya mendapatkan teori saja, juga berkesempatan menyaksikan tindakan BESS secara langsung (live), serta melakukan diseksi kadaver secara langsung sebagai bagian dari sesi praktik.
“Workshop ini akan menjadi wadah penting untuk berbagi ilmu untuk mendukung pengembangan teknologi medis, terutama dalam bidang bedah saraf," kata dr. Dina Harum, MARS selaku Direktur RS Jakarta.
Pada kesempatan ini hadir pakar Endoskopi Tulang Belakang dari Korea yakni dr. Daejung Choi dan dr. Sung Won Cho sebagai International Faculty, di mana para dokter spesialis bedah saraf ini mendapat membimbing dan pengalaman yang mempercepat pengembangan keahlian di dalam negeri.
Namun, sebenarnya Endoskopi BESS sudah berkembang di Indonesia beberapa tahun belakangan ini dan sudah menjadi salah satu solusi minimally invasive dalam penanganan masalah tulang belakang, terkait HNP (hernia nukleus pulposus).
“Jadi perkembangan teknologi kedokteran di Indonesia sudah tidak kalah dengan yang ada di luar negeri, dan tentunya biaya disini lebih terjangkau,” ucap dr. Dimas.
(dra)