PANDEGLANG - Kampung Cirumput di Pandeglang, Banten, mungkin belum banyak terdengar di telinga publik. Namun, dari kampung kecil ini, harapan besar sedang bertumbuh, bukan hanya bagi petani setempat, tapi juga sebagai inspirasi bagi pembangunan pertanian nasional berbasis
koperasi .
Belum lama ini, sekelompok petani hortikultura di kampung tersebut mendirikan koperasi bernama Koperasi Bangun Tani Makmur, dengan pendampingan dari Agriterra, sebuah organisasi internasional yang fokus memperkuat koperasi petani di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca juga: Kementan Optimis Komoditas Hortikultura Dapat Menopang Perekonomian Saat ini, koperasi ini telah menghimpun 23 orang anggota, seluruhnya petani hortikultura. Meski masih di tahap awal, potensinya sangat besar diperkirakan menjangkau lebih dari 500 petani hortikultura di wilayah itu.
Menariknya, koperasi petani ini dibangun dengan model kolaboratif yang unik dan dampak langsung yang dirasakan para petani. Berbeda dengan koperasi kebanyakan yang sering dimulai secara swadaya, Koperasi Bangun Tani Makmur lahir dengan dukungan awal dari mitra perusahaan swasta yang selama ini bermitra dengan petani setempat.
Perusahaan ini bukan hanya menyerap hasil panen, tetapi juga ikut menyuntikkan modal awal koperasi sekaligus memperkuat ekosistem pertanian di tingkat lokal.
“Model koperasi seperti ini bisa jadi inspirasi untuk perusahaan-perusahaan yang punya komitmen terhadap pemberdayaan petani. Melalui koperasi, mereka tidak hanya membantu petani secara individu, tetapi juga memperkuat kelembagaan ekonomi desa,” ujar Cooperative Advisor Agriterra Aditya Mirzapahlevi Saptadjaja, Kamis (28/8/2025).
Hal yang sama disampaikan Dadang, Ketua Koperasi Bangun Tani Makmur. Dia mengungkapkan melalui koperasi ini petani mendapatkan banyak manfaat di antaranya dari sisi biaya produksi, koperasi membuat harga sarana produksi pertanian (saprotan) jadi lebih murah karena pembelian dilakukan secara kolektif.
Tak hanya itu, koperasi juga memfasilitasi pinjaman produktif bagi anggota dengan skema pembiayaan yang disesuaikan berdasarkan simpanan wajib. Hal ini sangat membantu petani yang selama ini kesulitan mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan seperti bank, bahkan kerap bergantung pada pinjaman dari organisasi dengan bunga tinggi yang justru membebani usaha mereka.
Dari sisi pendapatan, petani mendapatkan harga jual hasil panen yang lebih baik karena dipasarkan melalui koperasi. Mereka juga berhak atas sisa hasil usaha (SHU) koperasi yang dibagikan setiap tahun. Ini menjadi tambahan penghasilan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Ke depannya, petani kecil yang sebelumnya dianggap "tidak bankable" akan dapat dipercaya oleh lembaga keuangan berkat rekam jejak koperasi yang sehat dan tata kelola yang transparan.
“Petani hortikultura menghadapi banyak risiko, dari harga pasar yang fluktuatif hingga gagal panen. Melalui koperasi, risiko ini bisa dikelola bersama. Petani jadi tidak sendiri dalam menghadapi tantangan,” ujar Aditya.
Agriterra menilai bahwa sektor hortikultura adalah masa depan pertanian Indonesia. Pasarnya besar, siklus tanam cepat, dan nilai ekonominya tinggi. Tak heran jika organisasi ini kini mulai memfokuskan program-program pendampingannya pada koperasi petani hortikultura.
Langkah ke depan bagi Koperasi Bangun Tani Makmur adalah memperluas keanggotaan dan memperkuat tata kelola. Agriterra akan terus mendampingi koperasi ini agar menjadi role model koperasi hortikultura yang berkelanjutan.
Tak hanya itu, Agriterra juga mendorong lahirnya lebih banyak kemitraan koperasi-swasta serupa yang membuktikan bahwa kolaborasi antarpihak bisa menjadi kunci untuk membangun sistem pertanian yang lebih adil dan efisien.
Koperasi ini adalah langkah kecil dengan dampak besar. Dari Kampung Cirumput, benih harapan itu ditanam. Siapa sangka, mungkin dari kampung ini pula akan lahir perubahan besar bagi masa depan pertanian hortikultura Indonesia.
(jon)