WASHINGTON - Microsoft telah mengonfirmasi bahwa layanan cloud Azure-nya mengalami gangguan akibat beberapa putusnya kabel bawah laut di Laut Merah, yang memengaruhi konektivitas data antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
BACA JUGA - Microsoft Resmi Hadirkan Copilot di Microsoft 365 Personal dan Family Microsoft telah mengonfirmasi bahwa layanan cloud Azure-nya mengalami gangguan menyusul putusnya kabel bawah laut di Laut Merah, yang memengaruhi konektivitas antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Lalu lintas data dialihkan ke rute alternatif, yang menyebabkan peningkatan latensi dan gangguan kinerja bagi beberapa pengguna.
Insiden ini menyoroti ketergantungan dunia pada kabel bawah laut dan perlunya rencana pemulihan jaringan yang lebih efisien di era digital.
Dalam pembaruan kesehatan layanan yang dirilis pada hari Sabtu, perusahaan tersebut mengatakan bahwa pengguna Azure mungkin mengalami penundaan koneksi (latensi) yang lebih tinggi dari biasanya.
Gangguan ini memengaruhi lalu lintas data di seluruh wilayah utama, terutama bagi organisasi yang mengandalkan konektivitas lintas wilayah untuk aplikasi dan layanan digital mereka.
"Pemadaman kabel bawah laut membutuhkan waktu untuk diperbaiki. Kami akan terus memantau, menyeimbangkan kembali, dan mengoptimalkan rute lalu lintas untuk meminimalkan dampak bagi pelanggan," ujar Microsoft dalam pernyataan resminya.
Sebagai tindakan sementara, Microsoft telah mengalihkan lalu lintas Azure melalui rute alternatif, tetapi hal ini mengakibatkan peningkatan latensi dan kemungkinan gangguan kinerja bagi beberapa pengguna.
Azure adalah penyedia cloud terbesar kedua di dunia setelah Amazon Web Services (AWS), dan banyak digunakan oleh perusahaan global untuk aplikasi perusahaan, pengembangan perangkat lunak, dan penyimpanan data.
Microsoft juga menyarankan pelanggan untuk memantau notifikasi kesehatan layanan dan bersiap menghadapi penundaan berkala hingga pekerjaan perbaikan kabel selesai.
Pemadaman kabel bawah laut bukanlah hal yang jarang terjadi, tetapi proses pemulihannya seringkali rumit dan memakan waktu.
Insiden ini sekali lagi menyoroti ketergantungan global pada infrastruktur komunikasi bawah laut dan perlunya rencana pemulihan jaringan yang lebih gesit di era digital.
(wbs)