JAKARTA - Sebuah mobil bukan sekadar mesin di atas empat roda, terkadang ia adalah kapsul waktu yang menyimpan sejarah.
Inilah yang terjadi pada Mercedes-Benz 280 SL "Pagoda" klasik, peninggalan Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, yang kini menjadi pusat perbincangan. Mobil ikonik ini telah berpindah tangan ke mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dengan mahar fantastis Rp2,6 miliar, namun di balik kemewahannya, tersimpan sebuah cerita yang belum tuntas.
Kabar ini terkuak langsung dari putra B.J. Habibie, Ilham Akbar Habibie. Ia membenarkan bahwa Ridwan Kamil membeli mobil bersejarah tersebut, namun dengan skema cicilan.
Sebuah fakta mengejutkan diungkap: dari total harga, baru Rp1,3 miliar yang dibayarkan.
"Mobil itu dibeli oleh RK dengan skema cicilan," ungkap Ilham, seraya menambahkan bahwa separuh pembayaran masih ditunggu.
Drama tidak berhenti di situ. Mobil yang sarat kenangan itu, menurut Ilham, sudah tak lagi sama. Warna silver orisinal yang elegan kini telah berganti rupa menjadi biru, sesuai selera pemilik barunya.
Saat ini, nasib sang "Pagoda" pun menjadi misteri, terparkir di sebuah bengkel tanpa kejelasan apakah sedang direstorasi atau sekadar disimpan.
Sang Legenda Bernama "Pagoda"
Mercedes-Benz 280 SL adalah bagian dari seri legendaris W113, yang pertama kali memukau dunia di ajang Geneva Motor Show pada Maret 1963. Julukan "Pagoda" disematkan karena desain atapnya yang unikābisa dilepas-pasang dan memiliki cekungan khas di bagian tengah, mengingatkan pada arsitektur kuil di Asia.
Di balik kap mesinnya, tersemat jantung pacu terkuat di serinya: mesin 2,8 liter inline-six. Dipadukan dengan suspensi independen, rem cakram elektrik, dan interior mewah, mobil ini adalah simbol kemapanan dan selera tinggi pada masanya.
Nilai historis mobil inilah yang membuat harganya melambung gila-gilaan. Di berbagai platform jual beli, model serupa tanpa jejak sejarah seorang presiden dijual di kisaran Rp1,3 miliaran. Namun, status "eks B.J. Habibie" seketika menggandakan nilainya menjadi Rp2,6 miliar.
Kisah ini pun memantik perdebatan. Di satu sisi, ada nilai sejarah sebuah artefak yang tak ternilai harganya. Di sisi lain, ada hak seorang pemilik baru untuk mempersonalisasi propertinya.
Sementara cicilan masih berjalan dan cat orisinal telah tiada, publik kini menanti babak akhir dari perjalanan sang "Pagoda"legendarisini.
(dan)