DOHA - Kelompok perlawanan Palestina Hamas mengonfirmasi lima anggotanya tewas dalam serangan Israel di ibu kota Qatar, Doha. Mereka sekaligus mengonfirmasi delegasi negosiasinya selamat dari serangan tersebut.
Hamas mengutuk serangan Israel sebagai "kejahatan keji dan agresi terang-terangan," dengan mengatakan serangan tersebut menargetkan delegasi negosiasi gerakan tersebut.
"Kami menegaskan musuh telah gagal membunuh saudara-saudara kami di delegasi negosiasi," tegas Hamas.
Kelompok tersebut mengidentifikasi anggotanya yang tewas sebagai Hammam al-Hayya, putra pemimpin kelompok Khalil al-Hayya, direktur kantornya Jihad Lubad, dan tiga ajudan: Abdullah Abdel Wahid, Moamen Hassouna, dan Ahmed al-Mamlouk.
"Kami menganggap pendudukan Israel dan pemerintah AS bertanggung jawab atas kejahatan ini karena dukungan Washington yang terus-menerus terhadap agresi dan kejahatan pendudukan terhadap rakyat kami," tegas Hamas.
Hamas menyebut, “Serangan Israel agresi terhadap kedaulatan Negara Qatar, yang bersama Mesir, memainkan peran penting dan bertanggung jawab dalam mensponsori upaya mediasi untuk menghentikan serangan dan mencapai gencatan senjata serta kesepakatan pertukaran tahanan."
Kelompok Palestina tersebut juga berduka atas tewasnya seorang personel keamanan Qatar dalam serangan Israel di Doha.
Mereka menekankan serangan terhadap tim negosiasinya terjadi "tepat pada saat mereka sedang membahas proposal terbaru dari Presiden AS Donald Trump."
Hamas menegaskan, “Serangan tersebut membuktikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pemerintahannya tidak berniat mencapai kesepakatan apa pun dan sengaja berusaha menggagalkan semua peluang dan menggagalkan upaya internasional."
“Serangan itu menunjukkan kembali bahwa pendudukan Zionis (Israel) merupakan ancaman serius bagi kawasan dan dunia," kata Hamas.
Hamas menambahkan, “Netanyahu menjalankan skema kriminal genosida, pembersihan etnis, kelaparan, dan pengungsian paksa."
"Upaya pembunuhan yang pengecut ini tidak akan mengubah posisi dan tuntutan kami yang jelas untuk segera mengakhiri agresi terhadap rakyat kami, penarikan penuh tentara pendudukan dari Gaza, pertukaran tahanan yang sesungguhnya, bantuan mendesak bagi rakyat kami, dan rekonstruksi," papar Hamas.
Hamas menjelaskan, "Kejahatan teroris ini tidak akan mematahkan tekad gerakan dan kepemimpinan kami, juga tidak akan menghalangi kami untuk berpegang teguh pada hak-hak nasional kami dan melanjutkan jalan perlawanan hingga pendudukan berakhir dan negara Palestina merdeka kami dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya didirikan."
Militer Israel mengonfirmasi mereka telah melakukan "serangan tepat sasaran" terhadap para pemimpin senior Hamas, tanpa menyebutkan ibu kota Qatar.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam keras serangan Israel tersebut, menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional."
Qatar, bersama Mesir dan AS, telah memediasi negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas mengenai potensi pertukaran tahanan dan kesepakatan gencatan senjata.
Israel telah membunuh lebih dari 64.600 warga Palestina dalam serangan brutal di Gaza sejak Oktober 2023.
Kampanye militer tersebut telah menghancurkan daerah kantong tersebut dan menyebabkan penduduk wilayah tersebut dilanda kelaparan.
November lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang yang dilakukannya di daerah kantong tersebut.
Baca juga: Israel Serang Qatar, Bom Permukiman dan Targetkan Pimpinan Hamas (sya)