Banyak
ayat-ayat Al-Quran yang membahas tentang musibah dan bencana alam yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam perspektif Islam,
musibah dipandang sebagai ujian dari Allah SWT yang mengandung hikmah dan pelajaran bagi hamba-Nya.
Kata “musibah” berasal dari bahasa Arab “ashaba” yang berarti sesuatu yang menimpa atau terjadi. Dalam Al-Qur’an,
musibah mencakup segala bentuk peristiwa, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Allah SWT berfirman:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap
musibah telah ditetapkan oleh Allah SWT dan memiliki tujuan tertentu dalam kehidupan manusia.
Berikut Ayat-ayat Al-Quran tentang Musibah atau Bencana:
1. Surah Al-Baqarah ayat 156
الَّذِيۡنَ اِذَآ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ ۙ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ رٰجِعُوۡنَؕ
Allaziina izaaa asaabathum musiibatun qooluuu innaa lillaahi wa innaaa ilaihi raaji'uunArtinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”
Ayat tentang bencana alam di atas secara jelas menunjukkan bagaimana seseorang yang harus menyebutkan kalimat khusus saat tertimpa musibah. Ini berarti segala hal yang diberikan Allah, termasuk harta dan nyawa, akan kembali lagi kepada-Nya.
Baca juga: Inilah 15 Penyebab Datangnya Musibah, Simak di Sini Saja! 2. Surah Asy-Syura ayat 30
وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ
Wa maaa asaabakum mim musiibatin fabimaa kasabat aydiikum wa ya'fuu 'an kasiirArtinya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”
Ayat tentang musibah di atas mendeskripsikan musibah akibat perbuatan seorang individu. Seandainya bencana ini benar-benar terjadi, maka Allah SWT akan memberikan ampunan yang banyak atas berbagai kesalahan orang tersebut.
3. Surah At-Taghabun ayat 11
مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِؕ وَمَنۡ يُّؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ يَهۡدِ قَلۡبَهٗؕ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ
Maaa asaaba mim musii batin illaa bi-iznil laah; wa many yu'mim billaahi yahdi qalbah; wallaahu bikulli shai;in AliimArtinya: “Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ayat Al-Quran tentang kebakaran mungkin mendeskripsikan bahwa itu terjadi akibat manusia, namun bukan berarti tidak tercatat dalam takdir. Seperti yang dijelaskan pada ayat di atas, Allah hanya memberi musibah atas izin-Nya.
4. Surah At-Taubah ayat 50
اِنۡ تُصِبۡكَ حَسَنَةٌ تَسُؤۡهُمۡ ۚ وَاِنۡ تُصِبۡكَ مُصِيۡبَةٌ يَّقُوۡلُوۡا قَدۡ اَخَذۡنَاۤ اَمۡرَنَا مِنۡ قَبۡلُ وَيَتَوَلَّوْا وَّهُمۡ فَرِحُوۡنَ
in tusibka hasanatun tasu'hum; wa in tusibka musiibatuny yaquuluu qad akhaznaaa amranaa min qablu wa yatawallaw wa hum farihuunArtinya: “Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka berkata, "Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi berperang)," dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira.”
Berdasarkan ayat tentang bencana alam di atas, kita bisa melihat bahwa orang yang mendapat bencana kerap menyesali perbuatan pada akhir kisah. Adapun mereka yang tidak menyadari rasa sesalnya itu berpaling tanpa memperhatikan tanda petunjuk-Nya.
5. Surah Al-Qashash ayat 47
وَلَوۡلَاۤ اَنۡ تُصِيۡبَـهُمۡ مُّصِيۡبَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتۡ اَيۡدِيۡهِمۡ فَيَقُوۡلُوۡا رَبَّنَا لَوۡلَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَـيۡنَا رَسُوۡلًا فَنَـتَّبِعَ اٰيٰتِكَ وَنَـكُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ
Wa law laaa an tusiibahum musiibatum bimaa qaddamat aidiihim fa yaquuluu Rabbanaa law laaa arsalta ilainaa Rasuulan fanattabi'a Aayaatika wa nakuuna minal mu'miniinArtinya: “Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, agar kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan termasuk orang mukmin.’”
Melalui ayat Al-Quran tentang musibah bencana tersebut, dapat dipantau bahwa seseorang kerap merasa tidak mendapatkan arahan dan memperoleh bencana. Padahal, berbagai petunjuk telah dipersiapkan untuk dilihat orang beriman.
Baca juga: Apakah Musibah Bisa Jadi Penghapus Dosa? Begini Penjelasannya 6. Surah Ali Imran ayat 165
اَوَلَمَّاۤ اَصَابَتۡكُمۡ مُّصِيۡبَةٌ قَدۡ اَصَبۡتُمۡ مِّثۡلَيۡهَا ۙ قُلۡتُمۡ اَنّٰى هٰذَاؕ قُلۡ هُوَ مِنۡ عِنۡدِ اَنۡفُسِكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ
Awa lammaaa asaabatkum musiibatun qad asabtum mislaihaa qultum annaa haazaa qul huwa min 'indi anfusikum; innal laaha 'alaa kulli shai'in QadiirArtinya: “Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Ayat tentang musibah di atas menjelaskan tentang kekalahan Perang Uhud dan kemenangan Perang Badar. Sesungguhnya apa yang dipertanyakan manusia pada ayat tersebut, baik kekalahan maupun kemenangan, semua terjadi berkat kehendak-Nya.
7. Surah Al Hadid Ayat 22
مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ فِى الۡاَرۡضِ وَلَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اِلَّا فِىۡ كِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡـرَاَهَا ؕ اِنَّ ذٰ لِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيۡرٌۚ
Maaa asaaba mim musii batin fil ardi wa laa fiii anfusikum illaa fii kitaabim min qabli an nabra ahaa; innaa zaalika 'alal laahi yasiirArtinya: ”Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”
Secara jelas kita bisa memantau bagaimana takdir sudah mendaftarkan berbagai bencana dan musibah kepada setiap manusia. Oleh karena itu, semua hal buruk dan baik yang telah diberikan harus dijadikan sebagai media pelatih kesabaran serta pembelajaran.
8. Surah An-Nisa ayat 62
فَكَيۡفَ اِذَاۤ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ ۢ بِمَا قَدَّمَتۡ اَيۡدِيۡهِمۡ ثُمَّ جَآءُوۡكَ يَحۡلِفُوۡنَۖ بِاللّٰهِ اِنۡ اَرَدۡنَاۤ اِلَّاۤ اِحۡسَانًـا وَّتَوۡفِيۡقًا
Fakaifa izaaa asaabathum musiibatum summa jaaa'uuka yahlifuuna billaahi in aradnaaa illaaa ihsaananw wa tawfiiqooArtinya: “Maka bagaimana halnya apabila (kelak) musibah menimpa mereka (orang munafik) disebabkan perbuatan tangannya sendiri, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad) sambil bersumpah, Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian.”
Berbicara tentang ayat di atas, secara khusus Nabi Muhammad diberikan nasehat tentang kedatangan orang munafik yang tertimpa musibah. Mereka biasanya menunjukkan sumpah palsu atas nama kedamaian maupun kebaikan.
9. Surah An-Nisa ayat 72
وَاِنَّ مِنۡكُمۡ لَمَنۡ لَّيُبَطِّئَنَّۚ فَاِنۡ اَصَابَتۡكُمۡ مُّصِيۡبَةٌ قَالَ قَدۡ اَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَىَّ اِذۡ لَمۡ اَكُنۡ مَّعَهُمۡ شَهِيۡدًا
Wa inna minkum lamal la yubatti'anna fa in asaabatkum musiibatun qoola qad an'amal laahu 'alaiya iz lam akum ma'ahum shahiidaArtinya: "Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, 'Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama mereka'."
Ayat Al-Quran tentang musibah di atas berkaitan dengan pertempuran maupun perjuangan seseorang dalam suatu hal. Adapun di belakang mereka pasti ada orang yang mensyukuri hal-hal yang tidak seharusnya disyukuri, yakni mereka bersifat tidak berani dan mencari alasan.
10. Surah Al-Maidah ayat 106
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا شَهَادَةُ بَيۡنِكُمۡ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الۡمَوۡتُ حِيۡنَ الۡوَصِيَّةِ اثۡـنٰنِ ذَوَا عَدۡلٍ مِّنۡكُمۡ اَوۡ اٰخَرَانِ مِنۡ غَيۡـرِكُمۡ اِنۡ اَنۡـتُمۡ ضَرَبۡتُمۡ فِى الۡاَرۡضِ فَاَصَابَتۡكُمۡ مُّصِيۡبَةُ الۡمَوۡتِ ؕ تَحۡبِسُوۡنَهُمَا مِنۡۢ بَعۡدِ الصَّلٰوةِ فَيُقۡسِمٰنِ بِاللّٰهِ اِنِ ارۡتَبۡتُمۡ لَا نَشۡتَرِىۡ بِهٖ ثَمَنًا وَّلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبٰى ۙ وَلَا نَـكۡتُمُ شَهَادَةَ ۙ اللّٰهِ اِنَّاۤ اِذًا لَّمِنَ الۡاٰثِمِيۡنَ
Yaaa aiyuhal laziina aamanuu shahaadatu bainikum izaa hadara ahadakumul mawtu hiinal wasiyyatis naani zawaa 'adlim minkum aw aakharaani min ghairikum in antum darabtum fil ardi fa asaabatkum musiibatul mawt; tahbi suunahumaa mim ba'dis Salaati fa yuqsimaaArtinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila salah seorang (di antara) kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan (agama) dengan kamu. Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah salat, agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu, Demi Allah kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak menyembunyikan kesaksian Allah; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.”
Dalil tentang musibah kematian sesuai ayat di atas menjelaskan ketentuan bagi mereka yang wafat pada kondisi tertentu, di mana membutuhkan saksi. Selain itu, seseorang dilarang mengambil keuntungan dari musibah yang diterima orang lain.
Demikian ayat-ayat Al Quran yang membahas tentang musibah ini, semoga menjadi renungan bagi kita semua. Amiin. Wallahu A'lam
Baca juga: Apa Beda Musibah dan Azab? Berikut Penjelasannya Menurut Al Quran (wid)