JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Darat
(KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengunjungi
pameran alutsista dalam rangkaian HUT ke-80 TNI yang digelar di Monumen Nasional (Monas) pada Sabtu (20/9/2025). Pameran alutsista dan hiburan ini diikuti tiga matra angkatan.
Usai meninjau lima stand milik Angkatan Darat (AD), Maruli mengaku belum mengetahui seluruh perlengkapan yang ditampilkan. Oleh karenanya dalam kunjungan ini, menjadi kesempatan dia untuk belajar mengenal peralatan tersebut.
Baca juga: Alasan Penempatan Rudal KHAN di Kalimantan Timur, Kadispenad: Bisa Mengcover 5 Pulau Besar "Baru lima stand. Saya terus terang saya juga tidak mungkin tahu semua perlengkapan yang mereka ini. Saya jadi kadang-kadang kalau datang ke sini sambil belajar juga," kata Maruli kepada wartawan, Sabtu (20/9/2025).
Dia menyampaikan bahwa beragam alutsista yang ditampilkan mendapat antusiasme dari masyarakat. Mereka senang TNI bisa manampilkan perlengkapan alat pertahanan seperti tank, kendaraan taktis hingga persenjataan.
"Jadi inilah yang kami lakukan karena memang kalau kita lihat berulang kali masyarakat sangat antusias untuk melihat perlengkapan kita," katanya.
Dia berharap melalui acara yang berlangsung sampai besok ini, bisa menumbuhkan minat masyarakat untuk bergabung menjadi prajurit TNI.
Baca juga: Ketika Indonesia Kerahkan Sistem Rudal KHAN di Tengah Sengketa Ambalat dengan Malaysia "Jadi juga sarana hiburan buat mereka mudah-mudahan juga jadi generasi-generasi anak-anak saya lihat banyak sekali yang benar-benar jadi generasi penerus kami nanti ke depan," katanya.
Selain menampilkan alutsista canggih, TNI AD juga mendirikan stand khusus penerima prajurit baru. Masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai syarat umum hingga khusus untuk menjadi seorang prajurit.
Maruli menegaskan kembali bahwa proses rekruitmen prajurit akan dilakukan secara profesional tanpa memandang latar belakang atau bawaan dari calon prajurit. Hal ini dilakukan untuk menciptakan rasa adil dan calon prajurit memiliki kesempatan yang sama selama proses rekruitmen.
"Kadang-kadang orang selalu berpikir bahwa kalau mau masuk harus ada yang dikenal, harus dibagaimanakan dan lain sebagainya. Padahal sekarang kita sudah banyak, saya kira di institusi manapun sudah banyak perubahan lah," ujarnya.
(shf)