WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memandang langkah sejumlah negara Barat untuk mengakui negara Palestina sebagai "hadiah bagi Hamas". Pernyataan itu diungkap juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Berbicara kepada wartawan, Leavitt mengatakan Trump tidak setuju dengan keputusan tersebut.
"Dia merasa ini tidak akan membebaskan para sandera yang merupakan tujuan utama saat ini di Gaza, tidak akan mengakhiri konflik ini dan mengakhiri perang ini," ujar Leavitt.
Ia menambahkan, "Terus terang, dia yakin ini adalah hadiah bagi Hamas ... Dia yakin keputusan ini hanya omong kosong belaka dan tidak cukup tindakan dari beberapa teman dan sekutu kita."
Sementara itu, serangan Israel semakin brutal di Kota Gaza. UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, mengatakan 12 kantornya di Kota Gaza, termasuk sembilan sekolah dan dua pusat kesehatan, terkena serangan langsung maupun tidak langsung Israel selama enam hari awal bulan ini.
Serangan-serangan tersebut, yang dirinci dalam laporan terbarunya tentang perkembangan di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki selama pekan yang dimulai pada 11 September, menyebabkan lima warga Palestina yang mengungsi terluka.
Laporan tersebut menggambarkan gambaran suram tentang memburuknya kondisi di Gaza di tengah perang genosida Israel, dengan meningkatnya serangan, pengungsian, dan malnutrisi.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan sekitar setengah dari hampir 250.000 pergerakan pengungsian yang tercatat sejak pertengahan Agustus terjadi selama pekan tersebut, dengan semakin banyaknya laporan tentang keluarga-keluarga yang tidur di jalanan atau di tenda-tenda darurat.
Sekitar 28.000 kasus malnutrisi akut pada anak-anak di bawah usia lima tahun telah tercatat pada bulan Juli dan Agustus, melebihi jumlah total kasus malnutrisi pada paruh pertama tahun ini, menurut laporan tersebut.
Baca juga: Brigade Al-Qassam Rilis Video Tahanan Israel di Kota Gaza yang Kecam Netanyahu (sya)