PAPUA - Kehadiran pasukan nonorganik
TNI di Kabupaten Paniai, Papua Tengah dinilai menimbulkan keresahan masyarakat. Sebab kehadiran pasukan ini tidak disertai informasi dan koordinasi yang memadai.
Anggota DPRK Kabupaten Paniai Yudas Nawipa mengatakan, masyarakat Paniai baru saja merasa suasana damai sedang berbenah untuk pembangunan wilayahnya. Warga sedang menata ulang kehidupan yang selalu didera konflik.
“Pasukan organik TNI-Polri dibantu dengan Satgas yang ada dan bantuan pasukan tambahan Brimob sebenarnya sudah berhasil membuat suasana wilayah kami damai dan kondusif,” ujarnya, Jumat (26/9/2025).
Yudas mengaku heran di tengah upaya melaksanakan pembangunan bersama rakyatnya, tiba-tiba warga dikejutkan dengan kehadiran pasukan non-organik yang semakin intens dalam sepekan terakhir. Pasukan ini ada yang didrop di kawasan danau Paniai dengan menggunakan sejumlah speedboad.
Baca juga: 18 Anggota TNI dan 16 Polri Diperiksa Kasus HAM Berat Paniai Papua “Kami sebagai wakil rakyat saja tidak mengetahui pasukan non-organik TNI ini diterjunkan ke Paniai untuk kepentingan apa. Bahkan, sampai saat ini kami tidak bisa melakukan koordinasi dengan pasukan tersebut,” katanya.
Bukan hanya penambahan pasukan, namun juga di wilayahnya kerap dilakukan patroli tengah malam. Bahkan, di beberapa lokasi dikabarkan telah dilakukan penggeledahan dari rumah-ke-rumah. “Ini yang membuat rakyat kami ketakutan, sehingga kini terjadi lagi gelombang pengungsian,” ujarnya.
Yudas berharap Panglima TNI dapat memerintahkan aparatnya untuk memberikan arahan, informasi, maupun koordinasi dengan pihaknya mengenai kehadiran pasukan non-organik ini.
“Setidaknya ini bisa menenangkan warga Paniai. Agar mereka tahu pasukan ini datang dalam rangka dan untuk apa. Saat ini semua orang ketakutan, malam-malam didatangi tentara,” ujarnya.
Baca juga: Kejagung Periksa Anggota TNI Terkait Peristiwa Paniai Papua Ketua Satgas Pengawalan Pembangunan Kampung Yunus Kadepa menuturkan, saat ini kembali terjadi pengungsian warga ke kabupaten tetangga yang dianggap lebih kondusif. Ribuan orang telah meninggalkan kampung, mereka umumnya takut dan trauma dengan patroli yang dilakukan oleh pasukan non-organik ini. “Lebih menyedihkan lagi, kami tidak bisa memberikan jawaban bagi rakyat terhadap kehadiran pasukan ini,” ujar Yunus.
Menurutnya, utusan dari suku-suku sudah berulang kali bertanya tentang apa maksud dan tujuan dari kehadiran pasukan ini. “Tapi, dengan sangat menyesal, saya tidak bisa memberikan jawaban. Karena memang tidak tahu, tidak ada yang memberi tahu” ujarnya.
Yunus juga berharap, sampai ada informasi dan koordinasi yang jelas dari pemerintah pusat, kegiatan pasukan non-organik ini dibekukan dulu.
“Kami memohon kepada Panglima TNI, sampai ada informasi dan koordinasi yang jelas. Pasukan non-organik agar kembali dulu ke markasnya, kepercayaan dan mental rakyat bisa dipulihkan sehingga mereka bisa kembali ke kampung-kampungnya. Karena wilayah kami pun butuh pembangunan, perekonomian harus jalan. Bagaimana bisa membangun kalau rakyat kami mengungsi semua,” ujarnya.
(cip)