SURABAYA - Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (
PPP ) berakhir kisruh. Para kandidat yang maju yaitu Mardiono dan Agus Suparmanto telah mengklaim sebagai ketua umum terpilih PPP. Keadaan itu menjadi keprihatinan seluruh umat Islam Indonesia. Keprihatinan juga dinyatakan para pengurus Eksponen Fusi 1973 untuk menyelamatkan partai berlambang Kakbah itu.
Ketua Umum Parmusi Prof Husnan Bey Fananie mengatakan, kisruh yang terjadi dalam
Muktamar PPP hanya dapat diselesaikan dengan mengembalikan semangat partai kepada akar sejarahnya yaitu fusi politik Islam tahun 1973 (Parmusi, NU, Perti dan SI). "Harus kembali kepada
stakeholders, yaitu empat Fusi pendiri PPP," kata caketum PPP ini, Minggu (28/9/2025).
Baca juga: Kericuhan Mewarnai Pembukaan Muktamar PPP, Jubir: Penyusup yang Sengaja Datang Bikin Gaduh Senada dengan Husnan, Ketua Umum Perti Anwar Sanusi menyatakan, PPP lahir dari tekad besar menyatukan kekuatan politik umat Islam yang sebelumnya terpecah ke dalam empat partai yakni NU, Parmusi, PSII, dan Perti. Semangat penyatuan itu kini harus kembali menjadi pijakan, bukan justru terpecah karena ambisi individu atau kepentingan politik jangka pendek.
“PPP ini bukan milik satu orang, bukan pula milik segelintir elite. PPP lahir dari fusi tahun 1973 sebagai rumah besar umat," ungkap mantan anggota DPR teesebut.
"Jika ada kisruh, maka jalan keluarnya adalah kembali ke eksponen fusi tersebut," ujar Imam Cokroaminoto dari pengurus Sarekat Islam. "Itu berarti kita harus meneguhkan persatuan, integritas, dan khittah perjuangan partai,” tambah Imam yang juga cucu dari HOS Cokroaminoto ini.
Anak pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Irene Rusli Halil menuturkan, Muktamar X PPP ini dinilai telah menzalimi para muktamirin. Mereka yang awalnya datang dengan tujuan baik menjadi buruk. "Kasihan para muktamirin ini telah dizalimi," tutur perempuan yang akrab disapa Mbak Iren.
Untuk itu Eksponen Fusi 1973 sepakat untuk menjadi jembatan untuk kedua belah pihak agar menemukan jalan tengah yang maslahat untuk semua pihak. "Kami, empat Fusi 73 tentu siap menjadi jembatan," ungkap Husnan Bey yang juga mantan wasekjen PPP ini.
Baca juga: Profil dan Sejarah PPP, Lahir dari Gabungan Partai Islam Cendikiawan Muslim Prof TB Masa Djafar menilai, penyelesaian konflik di tubuh PPP tidak bisa dilakukan dengan mengedepankan transaksi politik atau kompromi kekuasaan pragmatis. Sebaliknya, kader harus kembali ke akar sejarah partai agar PPP tetap relevan sebagai parpol Islam yang memperjuangkan kepentingan rakyat dan umat.
“Kalau PPP ingin bangkit, maka kita semua harus mengingat pesan Fusi 1973: umat Islam harus bersatu, tidak boleh terpecah. Jangan sampai PPP hari ini kehilangan ruh itu hanya karena kursi ketua umum,” ungkapnya.
(poe)