HONG KONG - Di tengah badai perlambatan otomotif yang menghantam pasar domestik China, raksasa mobil listrik BYD melakukan manuver mengejutkan: memangkas target penjualan total. Tapi, secara bersamaan menyiapkan "gempuran" ekspor terbesar dalam sejarah perusahaan.
Ini adalah sinyal kuat bahwa BYD kini "putar haluan" dan akan secara agresif menyerbu pasar global, termasuk Indonesia, sebagai medan perang baru untuk mencari pertumbuhan.
Perusahaan menargetkan penjualan hingga 1 juta unit mobil di luar daratan China sepanjang 2025.
Angka di Balik Manuver Dramatis
Menurut laporan South China Morning Post pada hari Senin (29/9), General Manager Branding dan Humas BYD, Li Yunfei, membeberkan angka-angka ambisius tersebut.
Target Ekspor 2025: 800.000 hingga 1 juta unit.
Kontribusi Ekspor: Angka ini akan menyumbang sekitar 20% dari proyeksi total penjualan global perusahaan sebesar 4,6 juta unit.
Target ini menunjukkan lompatan agresif. Sebagai perbandingan, pada 2024, penjualan ekspor BYD hanya menyumbang kurang dari 10% dari total penjualan mereka yang mencapai 4,26 juta unit.
Artinya, dalam satu tahun, BYD berambisi untuk melipatgandakan porsi kue ekspor mereka.
"Pengiriman internasional akan memberikan kontribusi lebih besar di tahun-tahun mendatang," ujar Li Yunfei, seperti dikutip oleh SCMP.
'Putar Haluan' di Tengah Pasar yang Melambat
Langkah untuk menggenjot ekspor ini bukan sekadar ambisi, melainkan keharusan. Di balik optimisme pasar global, BYD ternyata sedang menghadapi kenyataan pahit di kandang sendiri.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa total target penjualan BYD untuk tahun 2025 sebesar 4,6 juta unit tersebut sebenarnya adalah target yang sudah dipangkas hingga 16%.
Perusahaan menghadapi pertumbuhan tahunan paling lambat dalam lima tahun terakhir, sinyal bahwa era ekspansi fantastis mereka di China mungkin akan segera berakhir akibat perang harga yang brutal antar pabrikan mobil.
Kondisi inilah yang memaksa BYD untuk "lari keluar negeri" dan mencari sumber pendapatan baru di pasar internasional yang masih memiliki ruang untuk tumbuh.
Untuk mendukung invasi global ini, BYD bahkan telah menyiapkan senjata logistiknya sendiri. Li Yunfei menambahkan bahwa armada kapal pengangkut mobil milik BYD sendiri akan menjadi tulang punggung untuk mendukung lonjakan ekspor tersebut.
Bagi pasar otomotif dunia, ini adalah pesan yang jelas: gempuran mobil listrik dari raksasa China ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan strategi yang lahir dari kebutuhan untuk bertahan dan terusbertumbuh.
(dan)