ISLAMABAD - Menteri Luar Negeri (Menlu) Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan rencana 20 poin Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri perang Israel di Gaza itu "bukan dokumen kami." Pernyataan itu muncul seiring berbagai respons atas usulan Trump tersebut.
"Ini bukan dokumen kami, yang kami kirimkan kepada mereka. Ada beberapa area kunci yang ingin kami bahas... Jika tidak dibahas, akan dibahas," ujar dia.
Dia menambahkan, “Tujuan langsung dari rencana tersebut adalah untuk memastikan gencatan senjata, menghentikan pertumpahan darah, membiarkan bantuan kemanusiaan mengalir, dan mengakhiri pengungsian paksa."
Dar saat berpidato dalam konferensi pers di ibu kota Islamabad pada Selasa (30/9/2025) menjelaskan, “Anggaplah pengumuman Trump tentang rencana 20 poin tersebut sebagai pengumuman dari pihak mereka."
"Kami telah mengeluarkan pernyataan bersama atas nama delapan negara. Kami memiliki ini. Jika ada perbedaan di mana pun, kami akan mematuhinya — kami berkomitmen untuk ini," ujarnya, merujuk pada pernyataan bersama yang dikeluarkan delapan negara Muslim yang mendukung rencana Trump.
Para pemimpin Turki, Pakistan, Arab Saudi, Qatar, UEA, Mesir, Yordania, dan Indonesia mengadakan pertemuan dengan Trump di sela-sela sidang Majelis Umum PBB, di mana presiden AS membahas rencananya untuk mengakhiri serangan Israel di Gaza.
Kemudian, berbicara kepada penyiar lokal Geo News, Dar menegaskan kembali bahwa, “Draf rencana Trump yang dirilis Gedung Putih tidak mencakup semua proposal kami."
Pernyataan ini bertepatan dengan pernyataan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani bahwa beberapa isu dalam rencana Presiden AS Donald Trump untuk Gaza "memerlukan klarifikasi dan negosiasi."
"Rencana yang diusulkan Trump mencapai tujuan utama dengan mengakhiri perang, tetapi ada beberapa masalah yang memerlukan klarifikasi dan negosiasi," ujar Al Thani kepada televisi Al Jazeera yang berbasis di Doha.
"Kami berharap semua orang akan mempertimbangkan rencana ini secara konstruktif dan memanfaatkan kesempatan untuk mengakhiri perang," ujarnya.
Perdana Menteri Qatar mengatakan Doha belum menerima tanggapan Hamas atas rencana tersebut.
Pada hari Senin, Trump mengungkap rencana 20 poin untuk mengakhiri perang Israel di Gaza dalam konferensi pers di Gedung Putih bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Rencana tersebut menyerukan pembebasan semua tawanan Israel dengan imbalan puluhan tahanan Palestina, pelucutan senjata Hamas sepenuhnya, penarikan pasukan Israel secara bertahap, dan pembentukan komite Palestina yang teknokratis dan apolitis untuk memerintah wilayah kantong tersebut.
Jalan menuju penentuan nasib sendiri dan kenegaraan Palestina diuraikan dalam rencana tersebut sebagai satu kemungkinan — tetapi bukan jaminan.
Tentara Israel telah membunuh lebih dari 66.000 warga Palestina, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak di Gaza sejak Oktober 2023.
Pengeboman yang tiada henti telah membuat daerah kantong itu tidak dapat dihuni dan menyebabkan kelaparan serta penyebaran penyakit.
Baca juga: Kapal Fregat Italia akan Segera Tinggalkan Pengawalan Armada Bantuan Gaza Jelang Zona Kritis (sya)