JAKARTA - Agus Kuncoro merasa tertantang kembali ke layar lebar setelah melihat cerita Jembatan Shiratal Mustaqim. Pasalnya, film ini menghadirkan karya yang berani dengan tema berbeda.
Film Jembatan Shiratal Mustaqim memperlihatkan bagaimana dunia akhirat, terdapat negara yang menjadi penghuni para koruptor. Namun, ceritanya bukan untuk menakuti penonton lewat adegan menyeramkan di akhirat, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang tajam tentang keadilan Tuhan bagi manusia, terutama mereka yang berbuat korupsi.
Mengusung genre horor-drama epik, cerita berfokus pada perjalanan jiwa koruptor di Padang Mahsyar yang harus meniti Jembatan Shiratal Mustaqim dengan jurang api neraka di bawahnya.
Aktor senior Agus Kuncoro mengungkapkan dirinya tidak hanya tertantang, juga mendalami dari perannya sebagai pejabat korup dalam film arahan Bounty Umbara. “Referensinya sangat banyak, karena kekuasaan memang berbahaya dan mudah membuat orang tergoda. Di pengadilan dunia semua bisa terlihat baik, tapi pengadilan akhirat berbeda,” tuturnya.
Sementara, produser film Dheeraj Kalwani mengatakan bahwa karyanya tidak berhenti pada tontonan horor biasa. Ia menekankan bahwa ada pesan besar yang ingin disampaikan lewat visualisasi megah berbasis CGI yang digarap selama satu tahun penuh.
“Ini bukan sekadar horor tentang hantu, tapi horor tentang keadilan. Di dunia, koruptor bisa sembunyi di balik jabatan, tapi di akhirat tidak ada lobi, tidak ada kompromi. Semua dosa akan terbuka,” ujar Dheeraj Kalwani.
Film ini semakin menyita perhatian publik karena turut menghadirkan sosok Angelina Sondakh, mantan narapidana kasus korupsi. Kehadirannya dinilai memberi dimensi berbeda sekaligus menguatkan pesan moral yang ingin diangkat.
Menurut Angelina, film garapan Dee Company yang dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Oktober 2025 ini, seharusnya menjadi peringatan serius bagi pejabat dan masyarakat untuk tidak tergoda melakukan korupsi.
“Film ini harusnya membuka mata hati, bukan hanya untuk pejabat, tapi juga masyarakat luas. Korupsi mungkin memberi kesenangan sementara, tapi pada akhirnya akan berbalik ke kita. Semoga pesan film ini bisa sampai ke seluruh pelosok negeri,” kata Angelina.
Selain Angelina, jajaran aktor yang terlibat pun turut memberikan pandangan. Imelda Therrine, pemeran utama dalam film ini, mengaku tertantang sejak pertama kali membaca naskah.
“Aku penasaran bagaimana membayangkan akhirat dan memvisualisasikannya untuk penonton. Script-nya sangat menarik, membuat aku semangat mendalami peran,” ungkapnya.
Selain Imelda dan Agus, film ini juga dibintangi oleh Raihan Khan, Mike Lucock, Rory Ashari, dan Eduward Manalu. Para aktor ini ikut memperkuat cerita yang penuh ketegangan sekaligus memberi ruang bagi penonton untuk merenungkan konsekuensi perbuatan korupsi.
Dengan tema yang berani, pesan moral yang kuat, serta kualitas sinematografi modern, Jembatan Shiratal Mustaqim diprediksi akan menjadi tontonan yang bukan hanya mendebarkan, tetapi juga menyentil nurani publik. Film ini sekaligus menjadi pengingat bahwa korupsi tak pernah membawa kebahagiaan abadi, melainkan meninggalkan jejak dosa yang tidak bisa dihapuskan.
(dra)