floating-TNI Prima, TNI Rakyat,...
TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju: Mengokohkan SISHANKAMRATA di Era Ancaman Multidimensional
TNI Prima, TNI Rakyat,...
TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju: Mengokohkan SISHANKAMRATA di Era Ancaman Multidimensional
Minggu, 05 Oktober 2025 - 06:53 WIB
Selamat Ginting

Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)

Pendahuluan



TAHUN 2025 menjadi momentum penting bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang genap berusia 80 tahun. Dengan mengusung tema "TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju", peringatan HUT ke-80 TNI tidak hanya sekadar seremoni tahunan, tetapi juga mencerminkan arah strategis TNI dalam menjawab tantangan masa depan, sekaligus merefleksikan kembali jati dirinya sebagai komponen utama pertahanan negara.

Di tengah dinamika geopolitik global, peningkatan ketegangan kawasan, dan kemunculan ancaman non-tradisional seperti siber, disinformasi, serta bencana alam akibat perubahan iklim, tema ini terasa relevan dan strategis. Ia merupakan pesan politik dan militer bahwa pertahanan Indonesia tidak bisa berjalan setengah hati. Ia harus kuat dari dalam, didukung rakyat, dan bersinergi dengan pembangunan nasional.

TNI Prima: Pilar Profesionalisme dan Modernisasi



Ungkapan “TNI Prima” bukan sekadar slogan. Ia menandakan komitmen institusional TNI untuk menjadi kekuatan yang profesional, modern, dan adaptif. Dalam konteks ini, prima bermakna tiga hal: kualitas sumber daya manusia, kesiapan operasional, dan modernisasi alutsista.

Profesionalisme menjadi kata kunci. Sebab, hanya TNI yang netral, disiplin, dan patuh pada konstitusi yang akan mampu mempertahankan kepercayaan rakyat dan tetap menjadi alat negara yang sah di bidang pertahanan. Ini sejalan dengan amanat UU TNI dan arah reformasi militer pascareformasi 1998.

Lebih dari itu, prima juga mengisyaratkan transformasi TNI menghadapi ancaman masa depan, dari perang konvensional menuju perang siber, hibrida, dan multidimensi. Karena itu, investasi pada riset pertahanan, teknologi, serta sistem komando yang terintegrasi adalah keniscayaan.

TNI Rakyat: Reaktualisasi SISHANKAMRATA



Makna yang paling dalam dari tema HUT TNI tahun ini terletak pada frasa “TNI Rakyat”. Ini bukan konsep baru. Sejak kelahirannya pada 5 Oktober 1945, TNI dibangun dari kekuatan rakyat. Ia bukan tentara bayaran, bukan pula tentara partisan, tetapi tentara pejuang yang lahir dari rahim rakyat Indonesia.

Dalam konteks sistem pertahanan negara, frasa ini adalah reaktualisasi dari konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (SISHANKAMRATA). SISHANKAMRATA menempatkan TNI sebagai komponen utama, dan rakyat sebagai komponen pendukung yang aktif. Pertahanan Indonesia tidak bersifat ofensif, tetapi bersifat semesta, menyeluruh, dan berbasis pada kekuatan rakyat.

Sayangnya, konsep ini sering direduksi sebatas jargon. Padahal, implementasi nyata SISHANKAMRATA menuntut literasi pertahanan masyarakat, penguatan komponen cadangan dan pendukung, serta sinergi yang sistematis antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil.

Kemanunggalan TNI dan rakyat bukanlah romantisme masa lalu, tetapi kebutuhan strategis di tengah perang asimetris dan infiltrasi ideologi yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, bahkan tanpa suara tembakan.

Indonesia Maju: Keamanan sebagai Prasyarat Pembangunan



Pembangunan nasional tidak akan pernah lepas dari stabilitas keamanan. Negara-negara maju di dunia memiliki kesamaan: postur pertahanan yang solid dan legitimasi politik yang kuat. Indonesia harus belajar dari situ.

Dengan meletakkan “Indonesia Maju” sebagai tujuan akhir, tema ini menegaskan bahwa keamanan bukan hanya soal menjaga wilayah kedaulatan, tetapi juga soal memastikan jalannya pembangunan tanpa gangguan, baik fisik maupun nonfisik.

Oleh karena itu, pertahanan tidak bisa dipisahkan dari sektor lain seperti pendidikan, ekonomi, energi, hingga teknologi. Dalam kerangka pertahanan semesta, pembangunan harus bersifat multisektor dan menyentuh akar persoalan yang bisa memicu instabilitas, seperti ketimpangan, ketidakadilan, dan radikalisme.

Penutup: Menghidupkan Kembali Semangat Bela Negara



TNI yang prima dan menyatu dengan rakyat adalah aset tak ternilai. Namun, membangun pertahanan yang kokoh tidak cukup hanya dengan memperkuat institusi TNI. Diperlukan juga kesadaran kolektif bangsa bahwa pertahanan adalah urusan bersama. Pendidikan bela negara, revitalisasi komponen cadangan, dan penguatan diplomasi pertahanan adalah bagian dari upaya membumikan SISHANKAMRATA di era kontemporer.

HUT ke-80 TNI adalah momen untuk merefleksikan kembali pertanyaan paling fundamental: Apakah kita, sebagai warga negara, sudah mengambil peran dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI?

Dengan TNI yang prima dan didukung rakyat, bukan tidak mungkin Indonesia bisa melangkah lebih jauh menuju cita-cita besarnya: menjadi negara maju, berdaulat, dan berpengaruh secara global.
(rca)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Alasan TNI Kerahkan...
Alasan TNI Kerahkan Prajurit saat Aksi Mahasiswa di Jakpus: Permintaan Membantu
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?