GAZA - Negosiator utama
Hamas , Khalil al-Hayya, tiba di Mesir sebagai kepala delegasi. Dia akan terlibat dalam perundingan tidak langsung dengan Israel untuk pertukaran sandera dan gencatan senjata di Gaza.
Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada hari Senin di kota resor Sharm al-Sheikh, Mesir, akan menjadi pertemuan pertama al-Hayya sejak Israel menargetkan dirinya dan para pemimpin Hamas lainnya dalam serangan di Doha bulan lalu.
Ia memecah kebisuannya pada hari Minggu dengan penampilan pra-rekaman di TV yang disiarkan di Qatar, yang telah memediasi putaran-putaran perundingan berturut-turut bersama Mesir dan Amerika Serikat.
Gerakan Palestina tersebut mengatakan delegasi yang dipimpin oleh al-Hayya tiba di Mesir "untuk memulai negosiasi mengenai mekanisme gencatan senjata, penarikan pasukan pendudukan, dan pertukaran tahanan."
Baik Hamas maupun Israel telah menanggapi secara positif peta jalan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri pertempuran dan pembebasan tawanan di Gaza dengan imbalan warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel, meskipun detailnya masih harus diselesaikan.
Delegasi Israel akan berangkat ke Sharm El-Sheikh pada hari Senin, menurut kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Melansir Al Arabiya, Trump telah mengirim dua utusan untuk membantu menyelesaikan kesepakatan tersebut: utusan khususnya Steve Witkoff, dan menantunya Jared Kushner.
Baca Juga: Baru Hampir 1 Bulan Menjabat, PM Prancis Sébastien Lecornu Mundur Al-Hayya tidak menyinggung perundingan atau kemungkinan gencatan senjata dalam pidatonya hari Minggu, di mana ia berduka atas putranya dan lima orang lainnya yang tewas dalam serangan Doha.
Para pejabat tinggi Hamas diyakini selamat dari serangan terarah di Doha, yang menewaskan enam orang dan memicu gelombang kritik, serta teguran dari Presiden AS Donald Trump dan permintaan maaf kepada Qatar dari Netanyahu.
Siapa Khalil al-Hayya?
Melansir
Al Jazeera, Khalil al-Hayya, anggota Hamas paling senior yang masih hidup di luar Gaza, akan memimpin delegasi kelompok tersebut dalam negosiasi tidak langsung di Mesir.
Pria berusia 64 tahun ini menjadi target utama upaya pembunuhan yang gagal oleh Israel bulan lalu, ketika angkatan udaranya melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Qatar.
Al-Hayya telah memimpin tim negosiasi Hamas berkali-kali sebelumnya, dan ia akan mendorong dukungan Arab dan Muslim sementara para mediator berusaha mengakhiri perang yang menghancurkan ini.
Lahir di Kota Gaza, ia adalah anggota lama politbiro Hamas serta anggota Dewan Legislatif Palestina, terpilih pada tahun 2006. Ia pernah ditahan oleh Israel dan telah lolos dari berbagai upaya pembunuhan selama bertahun-tahun.
Al-Hayya juga kehilangan banyak anggota keluarga selama perang. Baru-baru ini, putranya, Homam, tewas dalam serangan Israel di Doha, bersama dengan direktur kantor al-Hayya, Jihad Labad.
Pemimpin senior Hamas tersebut tampil pertama kali di depan publik pada hari Sabtu, dengan kelompok Palestina tersebut merilis sebuah video di mana ia berkata: "Apa yang saya saksikan setiap hari, pembunuhan dan kehancuran di Gaza, membuat saya melupakan rasa sakit kehilangan anak-anak dan orang-orang terkasih saya."
(ahm)