floating-Peresmian Pemantauan...
Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue, Upaya Baru Lindungi Generasi dari Ancaman DBD
Peresmian Pemantauan...
Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue, Upaya Baru Lindungi Generasi dari Ancaman DBD
Senin, 06 Oktober 2025 - 17:00 WIB
JAKARTA - Infeksi dengue masih menjadi beban yang signifikan bagi masyarakat di seluruh dunia, menyebabkan krisis kesehatan yang parah, tekanan ekonomi, dan gangguan sosial. Insiden dengue meningkat secara signifikan di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir, dengan jumlah kasus yang dilaporkan ke Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) meningkat dari 505.430 kasus pada tahun 2000 menjadi 14,6 juta pada tahun 2024. Bahkan, data terbaru tentang prevalensi dengue memperkirakan bahwa 5,6 miliar orang berisiko terinfeksi dengue dan arbovirus lainnya.

Dengue adalah infeksi yang disebabkan oleh virus (DENV), yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina yang terinfeksi. Penyakit ini lebih umum di daerah beriklim tropis dan subtropis. Pada sebagian orang yang mengalaminya, gejala dengue sering kali tidak tampak atau hanya berupa gejala ringan. Namun, bagi yang mengalaminya, gejala paling umum adalah demam tinggi, sakit kepala, nyeri badan, nyeri sendi, mual, muntah dan ruam kulit. Virus dengue terdiri dari empat jenis/serotipe, oleh karena itu seseorang dapat terinfeksi virus dengue lebih dari satu kali, dan infeksi kedua kali dapat meningkatkan risiko terjadinya gejala yang lebih parah.

Sebagai negara endemis dengue, Indonesia telah melakukan berbagai upaya penanggulangan dengue melalui pengendalian vektor nyamuk secara berkesinambungan sejak tahun 1980. Mulai dari penggunaan larvasida dalam skala besar melalui fogging, hingga penerapan program yang mendorong partisipasi aktif masyarakat seperti Gerakan 3M Plus dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J). Namun demikian, pengendalian serta pencegahan dengue memerlukan pendekatan yang lebih terintegrasi, tidak hanya intervensi terhadap vektor, tetapi juga pada manusianya. Sejalan dengan Strategi Nasional Penanggulangan (STRANAS Kementrian Kesehatan RI) Dengue, diperkenalkan inovasi baru, antara lain penerapan teknologi Wolbachia untuk menekan laju penyebaran virus. Selain itu, sejumlah pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten telah mulai mengadopsi pencegahan lain, termasuk pelaksanaan vaksinasi dengue. Dengan demikian, pengendalian vektor tetap menjadi pilar utama, sementara pendekatan inovatif berfungsi melengkapi upaya yang sudah berjalan.

Walaupun berbagai langkah telah dijalankan, angka kejadian dengue masih menunjukkan tantangan yang perlu diatasi bersama. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat, sampai dengan 22 September 2025, terdapat 115.138 kasus dengue secara nasional dengan 479 kematian. Dari jumlah tersebut, 57 persen terjadi di Pulau Jawa , yang menunjukkan tingginya konsentrasi beban penyakit di wilayah dengan populasi padat. Dalam hal ini, DKI Jakarta sebagai provinsi dengan mobilitas penduduk yang tinggi membutuhkan strategi berlapis agar perlindungan terhadap masyarakat dapat lebih diperkuat.

Dalam sambutannya pada acara Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Kantor Walikota Jakarta Selatan, drg. Ani Ruspitawati, M.M., Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh dr. Ovi Norfiana, M.K.M., Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, menyampaikan, “Dengue adalah tantangan kesehatan yang terus kita hadapi setiap tahun dengan dampak

yang signifikan bagi masyarakat Jakarta. Tahun ini, sampai dengan tanggal 22 September saja, DKI Jakarta mencatat jumlah kasus dengue sebanyak 7.274 kasus dengan 12 kematian. Tentunya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai dari program pengendalian vektor nyamuk—seperti 3M Plus dan G1R1J—edukasi masyarakat yang berkelanjutan, hingga intervensi berbasis teknologi. Salah satu inovasi yang telah kami terapkan adalah implementasi Wolbachia di wilayah Jakarta Barat, yang menjadi pilot untuk memutus rantai penularan virus dengue. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana strategi berbasis sains dapat melengkapi upaya konvensional yang sudah berjalan.

Tapi, kami menyadari bahwa pengendalian dengue membutuhkan strategi yang terintegrasi. Untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi masyarakat, diperlukan pendekatan lain yang juga inovatif. Karena itu, kami bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melaksanakan vaksinasi dengue, beserta pemantauan aktif, di Jakarta Selatan sebagai langkah pelengkap. Kami percaya bahwa kolaborasi lintas sektor ini akan semakin memperkuat upaya perlindungan, sekaligus membuka jalan bagi masyarakat Jakarta untuk mendapatkan manfaat dari berbagai bentuk inovasi kesehatan.”

Sejalan dengan itu, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K), Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menambahkan pentingnya kewaspadaan terhadap dengue. “Dengue adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, di mana seseorang tinggal, maupun gaya hidup; dan bukan hanya saat musim hujan, tetapi juga mengancam sepanjang tahun. Itulah sebabnya masyarakat perlu selalu waspada, karena setiap keluarga berisiko terpapar. Pencegahan sangat penting, sama pentingnya adalah memastikan bahwa setiap intervensi yang dijalankan benar-benar memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat. Melalui pemantauan aktif vaksinasi dengue pada anak Sekolah Dasar di Jakarta Selatan ini, FKUI bersama Dinkes Provinsi DKI Jakarta dengan dukungan Takeda berupaya menghadirkan mekanisme pemantauan efektifitas vaksin yang lebih sistematis. Kami percaya, dengan langkah ini, kita dapat membangun fondasi yang lebih kuat dan berkesinambungan dalam mengurangi beban dengue di Indonesia.

Selain itu, kegiatan ini juga akan dilakukan bersama di beberapa daerah lain yaitu Palembang dan Banjarmasin. Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menegaskan komitmen FKUI dalam pelayanan kepada masyarakat, “Sebagai institusi pendidikan kedokteran, FKUI senantiasa berkomitmen untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia melalui tiga pilar utama kami, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Upaya pengendalian dengue merupakan bagian penting dari tanggung jawab kami dalam mengimplementasikan ilmu dan inovasi agar dapat dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat. Karena itu, sebuah kehormatan bagi kami dapat bergandengan tangan dengan Fakultas Kedokteran Sriwijaya Palembang, Fakultas Lambung Mangkurat Banjarmasin serta sebagai pelaksana Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Takeda dalam menggelar kegiatan peresmian pemantauan aktif vaksinasi dengue ini. Kolaborasi ini tidak hanya menjadi wujud nyata peran akademisi dalam memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat, tetapi juga mencerminkan semangat kami untuk menghadirkan solusi kesehatan yang relevan dan berkelanjutan di tengah tantangan penyakit menular seperti dengue.”

Dukungan serupa juga disampaikan oleh dr. Fadjar Surya Mensing Silalahi, Plh. Direktur Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Upaya pengendalian dengue di Indonesia terus diperkuat dari waktu ke waktu sebagai bagian dari komitmen nasional dalam melindungi kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan telah menetapkan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (STRANAS) 2021–2025 sebagai acuan bersama dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat dengue di seluruh wilayah. Keberhasilan strategi nasional ini tidak hanya ditentukan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan dukungan nyata dari akademisi, sektor swasta, dan masyarakat agar upaya pencegahan bisa berjalan lebih menyeluruh dan berkelanjutan. Kegiatan hari ini merupakan contoh kolaborasi yang sangat kami apresiasi, sekaligus selaras dengan strategi global WHO untuk Neglected Tropical Diseases 2020–2030 dengan target “Zero dengue death in 2030” (nol kematian akibat dengue pada tahun 2030). Dengan sinergi berbagai pihak, kami optimis target tersebut dapat tercapai dan beban dengue di tanah air dapat kita tekan.”

Sebagai mitra swasta yang turut terlibat dalam kegiatan ini, PT Takeda Innovative Medicines yang diwakili oleh dr. Arif Abdillah, Head of Medical Affairs, mengatakan, “Takeda memiliki komitmen jangka panjang dalam mendukung Indonesia melawan dengue, sejalan dengan misi kami untuk menghadirkan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat. Kami percaya bahwa peningkatan kesadaran publik tentang bahaya dengue, disertai kerja sama lintas sektor yang erat, merupakan fondasi penting untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030. Kami bangga dapat berkontribusi bersama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam kegiatan ini. Kami memandang kolaborasi ini bukan sekadar sebuah kegiatan, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat, membantu melindungi lebih banyak keluarga, serta membantu Indonesia semakin siap menghadapi tantangan penyakit menular di masa depan."
(dra)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Rekor! Angka Kematian...
Rekor! Angka Kematian DBD di Indonesia Turun ke 0,4 Persen, Target Nol Kematian 2030 Kian Nyata
Kasus Dengue Tembus...
Kasus Dengue Tembus 161 Ribu, Kemenkes Sebut DBD Masih Jadi Momok di Indonesia dan ASEAN
Waspada Musim Hujan,...
Waspada Musim Hujan, Ini 5 Penyakit yang Kerap Mengintai Masyarakat
Garbatera Gerakkan Masyarakat...
Garbatera Gerakkan Masyarakat Balongan untuk Lawan DBD dan Perbaiki Gizi Anak
Lindungi Anak dari DBD...
Lindungi Anak dari DBD Wujudkan Generasi Sehat di Hari Anak Nasional 2025