TEL AVIV - Massa warga
Israel dijadwalkan berkumpul di seluruh negeri pada hari Selasa (7/10/2025) untuk memperingati dua tahun serangan 7 Oktober 2023 oleh para militan Palestina yang dipimpin Hamas. Serangan itulah yang memicu perang habis-habisan militer Zionis, yang telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Gaza.
Serangan 7 Oktober, menurut angka resmi rezim Zionis, menewaskan sekitar 1.200 orang dan 251 lainnya disandera. Namun, investigasi media Israel;
Haaretz, kebanyakan korban tewas akibat serangan tank dan helikoter militer Zionis saat merespons serangan Hamas di Israel selatan.
Peringatan tidak resmi akan diadakan di kibbutzim kecil di Israel selatan yang anggotanya terbunuh atau diculik sebagai sandera, dan sebuah demonstrasi besar akan diadakan di Tel Aviv untuk menyerukan pembebasan para sandera yang tersisa di Gaza.
Baca Juga: Israel Terancam Diisolasi Dunia dan Defisit Keuangan Jika Rencana Trump Akhiri Perang Gaza Gagal Upacara peringatan nasional resmi akan diadakan pada 16 Oktober di pemakaman nasional Israel di Gunung Herzl setelah hari raya Yahudi; Simchat Torah.
Kenangan trauma kolektif akibat serangan dua tahun lalu—serangan tunggal paling mematikan dalam sejarah Israel—masih membayangi seluruh negeri. Wajah para sandera yang masih ditahan di Gaza terpampang di halte-halte bus di seluruh negeri, dan rumah-rumah yang dibakar oleh militan saat mereka menyerbu kibbutzim hangus dan terbengkalai.
Ratusan penyintas serangan di festival musik Nova menghadiri upacara peringatan pada hari Minggu bersama para mantan sandera dan keluarga korban.
"Malaikat ini seharusnya berusia 27 tahun hari ini. Saya menghayati kenangan itu seolah-olah baru satu jam yang lalu," ujar Ofir Dor, yang putranya, Idan Dor, tewas di festival tersebut, sambil berdiri di bawah tugu peringatan yang menampilkan wajah para korban.
Peringatan tersebut dibayangi oleh harapan bahwa perang di Gaza akhirnya akan segera berakhir. Para negosiator dari Hamas dan Israel berkumpul di Mesir pada hari Senin untuk memulai perundingan tidak langsung guna menyelesaikan detail pembebasan semua sandera yang ditahan di Gaza dan pemulangan hampir 2.000 tahanan Palestina, serta penarikan awal pasukan Israel dari Gaza.
Ronde perundingan ini, meskipun masih jauh dari kesepakatan, telah menghasilkan lebih banyak antusiasme daripada upaya perdamaian mana pun sejak gencatan senjata terakhir gagal pada pertengahan Maret.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia berharap dapat mengumumkan pembebasan para sandera "dalam beberapa hari mendatang", sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam Hamas dengan "pemusnahan total" jika kesepakatan itu tidak tercapai.
Beberapa acara peringatan telah diubah menjadi demonstrasi untuk mendesak pemerintah mencapai kesepakatan guna memulangkan para sandera dan mengakhiri perang. Dalam sebuah demonstrasi di Lapangan Sandera di Tel Aviv pada Sabtu malam, keluarga-keluarga menuntut agar Netanyahu menyetujui rencana Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.
Di Gaza, warga Palestina menunggu dengan napas tertahan untuk melihat apakah gencatan senjata akan terwujud. Meskipun Trump menuntut agar Israel menghentikan pengeboman Gaza untuk mengantisipasi pembebasan sandera, serangan di wilayah tersebut terus berlanjut.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan setidaknya 19 orang tewas di tangan Israel dalam 24 jam terakhir, termasuk dua orang yang mencari bantuan.
Hari Selasa juga akan menandai peringatan kedua dimulainya kampanye militer Israel di Jalur Gaza, yang telah mengakibatkan kerusakan material dan manusia bagi penduduk di sana.
Lebih dari 67.000 warga Palestina telah tewas dan sekitar 170.000 lainnya terluka oleh militer Israel di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Setidaknya 460 orang telah meninggal dunia akibat kelaparan di Gaza, dan otoritas terkemuka dunia dalam krisis pangan mengatakan bahwa kelaparan sedang melanda beberapa bagian Jalur Gaza—akibat dari apa yang disebut sebagian besar lembaga bantuan sebagai blokade Israel terhadap Gaza. Israel membantah klaim tersebut.
Sebuah komisi penyelidikan PBB, beberapa kelompok hak asasi manusia, dan asosiasi cendekiawan genosida terkemuka dunia mengatakan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza selama dua tahun terakhir. Israel membantah tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa tindakannya merupakan pembelaan diri.
(mas)