JALUR GAZA - Buah dan sayur segar telah menjadi "harta karun langka" di Gaza yang dilanda kelaparan. Selusin telur berharga USD49 (Rp811 ribu) dan tomat dijual seharga USD22 (Rp364 ribu) per kilogram, menurut data terbaru dari Christian Aid.
Lembaga amal yang berbasis di Inggris tersebut mengumpulkan data harga pangan di Khan Younis pada 27 September, dan mengungkapkan bawang bombai kini harganya mencapai 80 kali lipat harga sebelum perang, sementara sebungkus popok berisi 64 popok dijual seharga USD68 (Rp1,1 juta).
"Sekitar 75% orang tidak punya uang untuk membeli dan sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan," ungkap seorang konsultan Christian Aid yang keluarganya masih terjebak di Gaza.
Ranin Awad, seorang ibu dua anak berusia 26 tahun di Khan Younis, mengatakan, “Makanan adalah tantangan terberat. Kami bertahan hidup dengan apa pun yang kami temukan, kebanyakan lentil, nasi, dan roti jika tepung tersedia. Sayuran atau buah segar adalah harta yang langka. Hanya itu yang terkadang bisa saya berikan kepada anak-anak, hanya untuk menghilangkan rasa lapar mereka sejenak.”
Sementara itu, Hamas merilis pernyataan pada peringatan dua tahun serangan tak terduga yang dipimpin kelompok itu pada 7 Oktober 2023. Berikut beberapa poin utama dari pernyataan tersebut.
“Pertempuran dan dampaknya terus menebar bayangan politik, dengan agresi militer di kawasan tersebut, yang menandai titik balik utama dalam lanskap politik dan militer Timur Tengah,” ungkap Hamas.
Hamas menyatakan, “Israel melanjutkan perang brutalnya terhadap rakyat Palestina, melakukan pembantaian terhadap warga sipil yang tak berdaya, di tengah kebisuan dan keterlibatan internasional yang memalukan serta kegagalan Arab yang belum pernah terjadi sebelumnya."
"Keteguhan rakyat, dukungan di sekitar perlawanan, dan kepahlawanan rakyat negara dan rakyatnya terus berlanjut, menghadapi penjajah asing dan sampah masyarakat," papar Hamas.
Baca juga: Israel Mencapai Titik Tak Bisa Kembali dalam Perang Gaza (sya)