KABUL - Juru bicara utama pemerintah
Taliban , Zabihullah Mujahid, mengatakan pasukan Afghanistan telah merebut 25 pos militer Pakistan, menewaskan 58 tentara dan melukai 30 lainnya. Itu menunjukkan perang antara kedua negara Muslim itu makin memanas.
"Situasi di semua perbatasan resmi dan garis de facto Afghanistan berada di bawah kendali penuh, dan aktivitas ilegal sebagian besar telah dicegah," kata Mujahid dalam konferensi pers, dilansir Al Jazeera.
Kementerian Pertahanan pemerintah Taliban mengatakan pasukannya melakukan "operasi balasan yang berhasil" di sepanjang perbatasan.
"Jika pihak lawan kembali melanggar integritas teritorial Afghanistan, angkatan bersenjata kami sepenuhnya siap untuk mempertahankan perbatasan negara dan akan memberikan respons yang kuat," tambah kementerian tersebut.
BacaJuga: 4 Fakta Perang Taliban dan Pakistan, Salah Satunya Serangan Udara Dilakukan Islamabad Sementara itu, TOLOnews Afghanistan mengutip juru bicara utama pemerintah, Zabihullah Mujahid, yang mengatakan sembilan tentara Afghanistan tewas dan 16 lainnya luka-luka dalam pertempuran semalam.
Di sisi lain, PM Pakistan Sharif mengecam apa yang disebutnya sebagai "provokasi oleh Afghanistan" di sepanjang wilayah perbatasan Pakistan semalam.
"Tidak akan ada kompromi terhadap pertahanan Pakistan, dan setiap provokasi akan ditanggapi dengan respons yang kuat dan efektif," ujarnya dalam sebuah pernyataan, menuduh otoritas Taliban di Afghanistan membiarkan wilayah mereka digunakan oleh "elemen teroris".
Seorang pejabat senior Pakistan mengatakan kepada AFP bahwa pasukan paramiliter tambahan telah dikirim ke penyeberangan perbatasan Torkham.
"Perbatasan Torkham telah ditutup sepenuhnya untuk pergerakan pejalan kaki dan perdagangan," kata pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim.
"Pasukan keamanan juga telah menarik semua staf sipil yang ditempatkan di perbatasan, sehingga mereka tidak terluka jika terjadi penembakan lebih lanjut."
Sementara itu, pejabat perbatasan Pakistan lainnya di Chaman, yang menghubungkan provinsi Balochistan Pakistan dengan Kandahar, tempat kelahiran Taliban, mengatakan bahwa perlintasan itu “disegel”.
(ahm)