JAKARTA -
Mahasiswa Program Studi Sarjana Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta , Marsya Handini, berhasil menorehkan nama Indonesia di kancah global melalui partisipasinya sebagai salah satu delegasi dalam Green Innovator Academy (GIA) 2025.
Acara ini didukung oleh ASEAN Youth Organization (AYO) bekerja sama dengan GIA di Manila, Filipina, pada 13-14 Oktober 2025. Marsya terpilih bersama delegasi lainnya dari berbagai belahan dunia berkat ketekunannya dalam mengikuti Program Magang Kampus Berdampak Mandiri di ASEAN Youth Organization (AYO).
Melalui program ini, Marsya menjadi salah satu perwakilan mahasiswa magang asal Indonesia yang dikirim ke kegiatan bertaraf internasional yang dihadiri oleh 140 peserta dari berbagai negara. Sedikitnya ada 16 delegasi terpilih dari ASEAN, 4 dari Hong Kong, dan 20 dari Jepang berpartisipasi dalam program GIA 2025.
Baca juga: Muhammad Fachrul Hudallah Terpilih Jadi Ketua PPI UK, Rantau Connect Jadi Andalan Program ini dirancang untuk membina generasi inovator hijau muda yang berkomitmen pada keberlanjutan dengan pola pikir kewirausahaan di kawasan Asia Pasifik. Melalui dialog dengan inovator muda dari beragam latar belakang budaya dan eksplorasi solusi dunia nyata, para peserta mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang perspektif multikultural.
Para peserta mengikuti serangkaian kuliah, kunjungan lapangan ke mitra kerja AYO, dan lokakarya untuk membahas solusi, serta mempresentasikannya. Marsya dan seluruh delegasi dibekali dengan keterampilan untuk berkolaborasi lintas batas negara dan budaya, yang memungkinkan mereka untuk mendorong dampak inovatif dan kolektif menuju masa depan yang berkelanjutan.
AYO secara rutin memberikan peluang bagi mahasiswa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk terlibat dalam proyek-proyek besar skala internasional.
Baca juga: Pendidikan Mentereng Moshe Darron Panjaitan, Menantu Erick Thohir yang Lulusan MIT "Secara berkala kami mengirim delegasi terbaik untuk berperan aktif di dunia Internasional. Marsya dari UPN "Veteran" Jakarta adalah salah satu delegasi magang kampus berdampak kami yang kami kirim ke perhelatan GIA di Filipina, hal ini untuk menunjukkan peran dan kontribusi mahasiswa/i Indonesia dalam panggung internasional," ujar Pendiri AYO Senjaya Mulya, melalui siaran pers, Selasa (21/10/2025).
Selama dua hari acara, Marsya dan para delegasi terlibat dalam kegiatan yang menggabungkan kunjungan lapangan dan diskusi kebijakan. Pada hari pertama, mereka mengunjungi komunitas lokal di Manila, seperti Barangay (Kelurahan) Potrero Malabon dan Barangay Dampalit, di mana mereka menyaksikan langsung tantangan seperti pengelolaan sampah dan banjir, serta inisiatif seperti Zero Waste Carinderia yang mendukung ekonomi sirkular.
Pada hari kedua, fokus bergeser ke sesi panel dan dialog di Mabuhay Tea House dengan tema "Pemuda dalam Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular".
Para peserta, termasuk Marsya, berkolaborasi dengan pakar dari Philippines Reuse Consortium, Children and Youth Major Group to UNEP, dan Break Free From Plastic untuk merumuskan rekomendasi konkret, seperti peningkatan infrastruktur kompos di tingkat komunitas, insentif ekonomi untuk toko-toko lokal, dan penguatan Undang-Undang pengelolaan limbah padat melalui pemantauan masyarakat.
“Sebagai mahasiswi UPN “Veteran” Jakarta, saya tentu sangat bangga karena bisa terpilih diantara interns dari Asia Tenggara untuk ikut dalam projek ini, dampak magang yang difasilitasi kampus ini benar-benar bisa sampai berdampak ke urusan internasional," ucap Marsya penuh bangga.
Prestasi Marsya ini menunjukkan kontribusi pemuda Indonesia dalam isu global, dan diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa Indonesia lainnya untuk terlibat dalam proyek maupun inisiatif internasional serupa.
“Diskusi Meja Bundar juga menjadi sesi paling dinamis menurut saya, dimana para delegasi berkolaborasi untuk mengidentifikasi tantangan dan mengembangkan solusi alternatif, ini jadi advokasi saya bersama rekan-rekan dari seluruh dunia untuk menjaga lingkungan berbasis komunitas di dunia internasional," tutup Marsya.
(nnz)