floating-HSN 2025, GPK Ingatkan...
HSN 2025, GPK Ingatkan Lagi Peran Kiai - Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan
HSN 2025, GPK Ingatkan...
HSN 2025, GPK Ingatkan Lagi Peran Kiai - Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan
Rabu, 22 Oktober 2025 - 17:29 WIB
JAKARTA - Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 menjadi momentum yang tepat untuk mengingatkan kembali kepada semua pihak soal peran para kiai, santri dan peran pondok pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Sekretaris Jenderal PP Gerakan Pemuda Ka'bah (GPK) Thobahul Aftoni menegaskan, HSN menjadi tonggak bersejarah terkait pengakuan negara terhadap peran ulama, kiai, dan santri selama fase awal perjuangan merebut kemerdekaan hingga mengorbankan nyawa.

"Tidak sedikit kiai dan santri yang gugur di medan pertempuran melawan penjajah, dan adanya keinginan kuat agar Indonesia terbebas dari penindasan dan penjajahan,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).

“Untuk itulah, mari jadikan momentum HSN sebagai refleksi sekaligus mengingatkan kembali bahwa Indonesia pada fase perjuangan awal kemerdekaan tidak serta merta berdiri sendiri, tapi ada nyawa yang dikorbankan dari kiai, santri, dan pondok pesantren, pertempuran 10 November satu di antara fakta sejarah yang tidak bisa disangkal," sambungnya.

Baca juga: Hari Santri 2025, Sorotan Publik Harus Jadi Momentum Perbaikan

Di era saat ini, Aftoni menganggap, kiai dan santri terus mewarisi abu perjuangan dengan bersama-sama elemen lain untuk melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa dan membangun bangsa dari belenggu kemiskinan, kebodohan dan penindasan.

"Kiai dan santri kini menjelma menjadi bagian dari perubahan sesuai konteks zaman. Di samping itu, Kiai dan dunia pesantren saat ini mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai islam Wasathiyah, sehingga tercipta kerukunan antar komponen anak bangsa, dan juga semangat Hubhul Wathan minal Iman yang dipegang teguh dan menjadi spirit kebangsaan kita," ungkapnya.

Oleh karena demikian, lanjut Aftoni, sudah seharusnya penghormatan dan pengakuan peran kiai dan santri wajib diberikan. Bukan sebaliknya menyematkan narasi negatif, apalagi sampai memfitnah para kiai dan dunia pesantren.

"Kami sangat berharap, fitnah-fintah dan framing jahat kepada kiai dan dunia pesantren tidak terulang kembali ke depan. Mari fair dalam melihat sejarah, dan tentunya kami mengajak biasakan tabayyun dan kuatkan budaya literasi ketika menyampaikan narasi ke masyarakat," pungkasnya.
(rca)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Halaqoh Kiai Muda NU...
Halaqoh Kiai Muda NU Soroti Kepemimpinan di PBNU
Kiai NU: Penjaga Tradisi...
Kiai NU: Penjaga Tradisi atau Agen Kultural?
MUI Minta Pelaku Kekerasan...
MUI Minta Pelaku Kekerasan Seksual di Ponpes Ndolo Kusumo Diberi Hukuman Maksimal
Pengacara Santriwati...
Pengacara Santriwati Korban Pencabulan di Pati Tolak Disogok Rp400 Juta untuk Cabut Laporan