ISTABUL - Hubungan
Turki -Israel yang tegang menjadi alasan Zionis menolak gagasan pengerahan pasukan Turki ke Gaza sebagai bagian dari pasukan stabilisasi internasional. Itu menjadi agenda utama dalam konferensi Gaza di Turki.
Para menteri luar negeri dari beberapa negara Muslim akan bertemu di Turki pada hari Senin untuk membahas gencatan senjata Gaza dan langkah selanjutnya.
Diperkirakan akan hadir Qatar, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, Pakistan, dan Indonesia.
Chris Doyle, direktur Council for Arab-British Understanding yang berbasis di Inggris, mengatakan negara-negara tersebut kemungkinan akan mendorong penerapan fase pertama gencatan senjata secara lebih ketat sebelum beralih ke fase-fase berikutnya.
"Kita tidak bisa berada dalam situasi di mana itu benar-benar de-eskalasi – mungkin dari puncak genosida – alih-alih gencatan senjata yang sesungguhnya," ujar Doyle kepada
Al Jazeera."Dan bantuan yang datang hanya sekitar 100 truk per hari, bukan 600 truk – jadi semua itu harus diubah. Itu bisa dilakukan sekarang. Namun ke depannya, tentu saja, mereka memiliki pengaruh besar terhadap bentuk, susunan, dan mandat, bahkan terhadap pasukan stabilisasi internasional yang dapat dilibatkan dalam proses demiliterisasi Gaza."
Baca Juga: Terlalu Mengandalkan Simulasi Komputer, Uji Coba Nuklir AS Butuh Waktu Bertahun-tahun Sebelumnya, Israel juga menolak masuknya insinyur Turki ke Gaza untuk membantu pembersihan puing-puing, kata Chris Doyle, direktur Council for Arab-British Understanding.
“Kami juga mendengar Presiden Erdogan sangat blak-blakan dalam konferensi pers dengan Kanselir Jerman Mertz awal pekan ini, dan beliau pada dasarnya berkata, ‘Tidak bisakah Anda melihat genosida yang telah terjadi di Gaza?'” ujar Doyle kepada Al Jazeera, berbicara dari London.
Namun, Turki "mengatur kekuatan regional" untuk melanjutkan rencana gencatan senjata 20 poin Presiden Trump dengan menyelenggarakan pertemuan para menteri luar negeri dari berbagai negara Muslim pada hari Senin, kata Doyle.
"[Turki] akan membutuhkan pasukan dari negara-negara yang hadir, tetapi juga pendanaan, dan itu berarti mereka memiliki pengaruh," ujarnya.
(ahm)