floating-Babak Baru Trump-Xi...
Babak Baru Trump-Xi Jinping, China Setop Larangan Ekspor Logam Tanah Jarang ke AS
Babak Baru Trump-Xi...
Babak Baru Trump-Xi Jinping, China Setop Larangan Ekspor Logam Tanah Jarang ke AS
Senin, 03 November 2025 - 09:00 WIB
WASHINGTON - China memutuskan untuk menghentikan sementara pembatasan ekspor logam tanah jaran penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan Amerika Serikat (AS) di sektor rantai pasok semikonduktor. Langkah ini menjadi bagian dari kesepakatan dagang baru yang diumumkan Gedung Putih pada Sabtu (1/11), hasil pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Dalam lembar fakta yang dirilis Gedung Putih, kedua pemimpin sepakat menurunkan tensi perang dagang yang selama beberapa tahun terakhir menimbulkan guncangan besar terhadap perekonomian global. Kesepakatan itu membuka jalan bagi stabilisasi hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia, setelah periode panjang saling balas tarif dan pembatasan ekspor strategis.

Baca Juga: Trump: Xi Jinping Menyadari Konsekuensi Jika China Nekat Menginvasi Taiwan

Melalui kesepakatan tersebut, China akan menerbitkan lisensi ekspor umum bagi sejumlah komoditas penting seperti logam tanah jarang, galium, germanium, antimoni, dan grafit. Kebijakan ini sekaligus mencabut pembatasan ekspor yang diberlakukan Beijing pada 2022 dan 2025. Dengan langkah tersebut, pelaku industri di AS dan mitra globalnya diharapkan kembali memperoleh kepastian pasokan bahan baku penting untuk produksi semikonduktor dan teknologi tinggi lainnya.

Sebagai imbalan, AS akan menunda penerapan tarif baru terhadap produk impor asal China selama satu tahun. Washington juga memperpanjang masa berlaku pengecualian tarif berdasarkan Section 301 hingga November 2026, serta menunda rencana pengenaan tarif 100% terhadap ekspor China yang sebelumnya dijadwalkan berlaku bulan ini.

Pertemuan antara Trump dan Xi menjadi yang pertama sejak Trump memulai masa jabatan keduanya. Momen ini dinilai penting karena menandai upaya konkret untuk menstabilkan hubungan bilateral setelah perang dagang yang telah memicu kekhawatiran akan resesi global.

Selain menangguhkan pembatasan logam tanah jarang, China juga sepakat melonggarkan regulasi terhadap magnet berbasis mineral tersebut. Sebagai timbal balik, AS berjanji membatasi perluasan sanksi terhadap perusahaan teknologi China. Sebelumnya, Beijing kerap menggunakan dominasinya dalam produksi dan pemrosesan mineral tanah jarang sebagai alat negosiasi di tengah ketegangan perdagangan.

Dalam sektor pertanian, kedua negara juga mencapai kesepakatan penting. China berkomitmen untuk membeli 12 juta ton kedelai AS pada musim berjalan, serta minimal 25 juta ton per tahun selama tiga tahun mendatang. Sementara, Washington akan memangkas separuh tarif atas fentanyl dari 20% menjadi 10%. Trump bahkan menyatakan siap menghapus sepenuhnya tarif tersebut jika Beijing terus menindak tegas ekspor obat-obatan terlarang dan bahan kimia prekursor ke AS.

"Kapan pun kami melihat langkah itu benar-benar dijalankan, kami akan mencabut 10% sisanya," ujar Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, seperti dikutip Bloomberg, Senin (3/11).

Baca Juga: Perang Dagang Melunak, AS Bekukan Aturan 50% ke China

Di sisi lain, AS juga memastikan bahwa China akan mengizinkan kembali pengiriman produk dari fasilitas perusahaan semikonduktor asal Belanda, Nexperia BV, yang beroperasi di China. Keputusan tersebut diharapkan dapat meredakan kekhawatiran industri otomotif dunia terkait gangguan pasokan chip akibat tensi geopolitik kedua negara.

Meski demikian, pengamat menilai kesepakatan tersebut baru sebatas gencatan senjata sementara. Sebagian besar ketentuan hanya berlaku satu tahun, dan belum menyentuh isu-isu mendasar seperti perlindungan teknologi, keamanan siber, serta posisi geopolitik China terhadap Taiwan dan perang Rusia-Ukraina. Kendati begitu, langkah ini tetap dipandang sebagai sinyal positif bagi stabilitas ekonomi global dan pemulihan rantai pasok dunia.
(nng)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Wamenhub Sebut Potensi...
Wamenhub Sebut Potensi Penerimaan Negara Lewat PT DSI Bisa Tembus Rp2.671 Triliun
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis