JAKARTA -
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (
AHY ) tengah disorot lantaran menyebut APBN bisa menjadi salah satu opsi untuk utang Whoosh. Di balik itu, AHY ternyata memiliki riwayat pendidikan yang cemerlang.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan kemungkinan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ikut berperan dalam penyelesaian masalah keuangan proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).
Baca juga: AHY Buka Kemungkinan Pakai Duit APBN Buat Bayar Utang Whoosh Pernyataan tersebut disampaikan AHY usai memimpin rapat koordinasi terbatas di kantornya bersama sejumlah kementerian terkait. Hasil rapat itu, kata AHY, telah dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (3/11/2025).
“Secara umum yang dibahas di rakor Kemenko sejalan dengan arahan Presiden. Negara akan hadir untuk mencari solusi terbaik. Secara spesifik nanti akan dijelaskan pada kesempatan berikutnya,” ujar AHY.
Baca juga: AHY Pastikan Negara Hadir Tangani Utang Whoosh Rp1,63 Triliun Ia menegaskan bahwa pemerintah, melalui APBN, dapat menjadi bagian dari upaya penyelamatan finansial proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara tersebut. “Pemerintah pasti akan hadir, dan APBN akan menjadi bagian dalam penyelesaian ini. Di banyak negara, pembangunan infrastruktur memang tidak lepas dari dukungan negara,” tambahnya.
Sebagai Menko yang baru menjabat di bawah Kabinet Presiden Prabowo, AHY menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan proyek strategis nasional seperti Whoosh agar tetap memberikan manfaat jangka panjang bagi konektivitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Riwayat Pendidikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
Agus Harimurti Yudhoyono lahir di Bandung, 10 Agustus 1978, sebagai putra pertama Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Kristiani Herrawati (Alm.). Ia dikenal memiliki rekam jejak akademik yang luar biasa baik di dalam maupun luar negeri.
AHY menempuh pendidikan menengah di SMA Taruna Nusantara dan lulus sebagai lulusan terbaik tahun 1997, meraih Bintang Garuda Trisakti Tarunatama Emas. Ia kemudian melanjutkan pendidikan militer di Akademi Militer (Akmil) Magelang, dan kembali menjadi lulusan terbaik tahun 2000, menerima Bintang Adhi Makayasa serta Pedang Trisakti Wiratama.
Tidak berhenti di situ, AHY menempuh tiga gelar magister dari universitas bergengsi dunia. Ia meraih Master of Science in Strategic Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura (2006); Master in Public Administration dari John F. Kennedy School of Government, Harvard University, AS (2010); dan Master of Arts in Leadership and Management dari Webster University, AS (2015) dengan predikat Summa Cum Laude.
Puncak prestasi akademiknya ditorehkan pada Desember 2024, ketika AHY meraih gelar Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia dari Universitas Airlangga sebagai lulusan terbaik program pascasarjana.
Dalam dunia militer, AHY juga memiliki catatan gemilang. Ia mengikuti berbagai pendidikan militer baik di dalam maupun luar negeri, termasuk US Army Command and General Staff College di Fort Leavenworth (Summa Cum Laude), serta meraih German Armed Forces Badge for Military Proficiency pada 2015.
Selama 16 tahun berdinas di TNI AD, AHY pernah bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan (2006–2007) dan mengakhiri karier militernya sebagai Komandan Batalyon Infanteri Mekanis 203 Kostrad, satuan elite pengaman Ibu Kota.
Di luar pemerintahan,
AHY juga dikenal sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, serta pendiri AHY Foundation dan Overlanding Indonesia, komunitas pecinta alam dan penjelajah nusantara
(nnz)