Komite Olimpiade Internasional
( IOC ) tengah mempertimbangkan kebijakan yang melarang atlet transgender berlaga di cabang olahraga putri. Isu ini mencuat setelah presiden IOC yang baru, Kirsty Coventry, membentuk empat kelompok kerja ketika resmi menjabat pada Juni lalu, salah satunya berfokus pada perlindungan olahraga perempuan.
Menurut laporan The Times, pekan lalu Direktur Kesehatan, Kedokteran, dan Sains IOC, Dr. Jane Thornton, memaparkan hasil temuan awal kelompok tersebut kepada para anggota IOC. Mantan juara dunia dayung itu menjelaskan bahwa bukti ilmiah menunjukkan seseorang yang telah melewati masa pubertas sebagai laki-laki memiliki keuntungan fisik permanen dibanding perempuan, yang tak sepenuhnya bisa dihilangkan melalui terapi hormon.
Laporan itu juga menyebut kemungkinan keputusan resmi akan diumumkan pada Sidang IOC ke-145 di Milan, beberapa hari sebelum Olimpiade Musim Dingin 2026 dimulai. Meski begitu, juru bicara IOC menegaskan bahwa pembahasan masih berlangsung dan belum mencapai keputusan final.
Dua sumber senior IOC yang berbicara kepada The Athletic secara anonim menyebut arah kebijakan organisasi “sudah jelas” dan menyebut langkah ini “sudah lama seharusnya dilakukan.”
Kontroversi ini menjadi sorotan setelah Olimpiade Paris 2024, ketika dua petinju yaknj Imane Khelif asal Aljazair dan Lin Yu-Ting dari Taiwan, memenangkan medali emas meski sebelumnya didiskualifikasi dari Kejuaraan Dunia 2023 karena gagal dalam tes kelayakan gender. Keduanya menegaskan bahwa mereka adalah perempuan, dan tidak ada bukti yang menunjukkan mereka transgender.
Kasus tersebut kembali menyulut perdebatan global mengenai partisipasi atlet transgender dalam olahraga perempuan. Sejumlah federasi besar seperti World Aquatics dan World Athletics telah lebih dulu memberlakukan larangan serupa. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Februari lalu menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender perempuan berkompetisi di semua level olahraga di AS, serta menolak visa bagi atlet transgender yang ingin tampil di Olimpiade Los Angeles 2028.
Hingga kini, satu-satunya atlet transgender perempuan yang pernah tampil di Olimpiade adalah atlet angkat besi asal Selandia Baru, Laurel Hubbard, di Tokyo 2020 — yang gagal mencatatkan angkatan sah.
Jika IOC benar-benar mengambil keputusan melarang atlet transgender di kategori putri, hal itu akan menjadi tonggak baru sekaligus perdebatan panjang dalam sejarah Olimpiade modern antara prinsip inklusivitas dan upaya menjaga keadilan kompetisi.
(sto)