JAKARTA - Ratusan robot humanoid Walker S2, berdiri dalam formasi presisi, lalu berbaris serempak di dalam sebuah gudang raksasa. Pemandangan sinematik, nyaris puitis, namun bagi banyak pasang mata di media sosial, adegan itu terasa distopia.
Ini adalah video viral dari Ubtech Robotics, yang menampilkan proses pengiriman massal robot industrial Walker S2, model yang baru diluncurkan tiga bulan lalu.
Dalam rekaman yang diambil drone, robot-robot itu bahkan mendemonstrasikan kemampuan otonomi: menukar baterai mereka sendiri untuk memastikan operasi 24/7, sebelum berbaris rapi menuju truk pemuatan.
Video ini sontak memicu asosiasi dengan film fiksi ilmiah apokaliptik. Diskusi sengit pun pecah di ruang-ruang digital. Di satu sisi, ada antusiasme atas lompatan teknologi. Di sisi lain, ketakutan akan hilangnya pekerjaan manusia secara masif tak terhindarkan.
Nyata atau Hoax AI?
Kesempurnaan barisan dan gerak sinkron itu, yang ditangkap dengan kualitas nyaris sinematik, justru melahirkan ketidakpercayaan. Debat panas terjadi: apakah ini nyata, atau sekadar hoax AI yang hiperrealistis?
Situasi ini memaksa Ubtech Robotics angkat bicara. Melalui takarir video, mereka seolah menjawab keraguan publik, yang menyebut adegan itu "terlihat terlalu sempurna untuk jadi nyata."
Pabrikan itu menegaskan, "Kesempurnaan tidak dibuat-buat—itu direkayasa dengan cermat. Ini adalah pengiriman massal bersejarah. Era baru manufaktur cerdas telah tiba."
Fakta bahwa sang kreator harus membela keaslian videonya menjadi penanda zaman. Kita telah memasuki era di mana kemajuan teknologi begitu cepat, sehingga mata publik tak lagi mampu, atau mungkin tak lagi percaya, untuk membedakan mana kenyataan dan mana rekayasadigital.
(dan)