BEIJING - Konflik diplomatik antara China dan Jepang makin memanas terkait masalah Taiwan. Dampaknya merembet ke perilisan film impor Jepang Crayon Shin-chan dan pembatalan 500.000 tiket pesawat dari China ke Jepang.
Ketegangan itu terjadi karena komentar Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi tentang Taiwan.
Hal ini terjadi ketika China Film News, yang diawasi Administrasi Film China yang didukung negara, mengatakan bahwa perilisan film impor Jepang "Crayon Shin-chan the Movie: Super Hot! The Spicy Kasukabe Dancers" dan "Cells at Work!" akan ditunda.
Kedua film tersebut awalnya diperkirakan akan dirilis masing-masing pada 6 Desember dan 22 November, menurut situs ulasan Douban.
"Komentar provokatif Jepang pasti akan memengaruhi persepsi penonton China terhadap film Jepang," ungkap pernyataan China Film News dalam artikel yang diunggah di WeChat, Senin.
500.000 Tiket Pesawat Dibatalkan
Saham Tokyo anjlok lebih dari 3% pada hari Selasa karena perselisihan diplomatik tersebut membebani sentimen.
Saham pariwisata dan ritel Jepang merosot pada hari Senin setelah China memperingatkan warganya menghindari Jepang, negara tujuan wisata utama.
Dalam pertemuannya dengan mitranya di Beijing, Kanai dari Kementerian Luar Negeri Jepang menolak alasan China atas peringatan perjalanannya, dengan mengatakan "ketertiban umum di Jepang sama sekali tidak memburuk", menurut pernyataan kementerian.
Ia "sangat mendesak (China) untuk mengambil tindakan yang tepat," menurut pernyataan itu.
Li Hanming, seorang analis penerbangan, mengatakan kepada AFP bahwa sekitar 500.000 tiket dari China ke Jepang telah dibatalkan sejak 15 November.
Dua negara dengan ekonomi terbesar di Asia ini saling terkait erat, dengan China sebagai sumber wisatawan terbesar — hampir 7,5 juta pengunjung dalam sembilan bulan pertama tahun 2025 — yang datang ke Jepang.
Sebelum berkuasa bulan lalu, Takaichi adalah seorang kritikus vokal terhadap China dan pengembangan militernya di Asia-Pasifik.
Jika keadaan darurat Taiwan melibatkan "kapal perang dan penggunaan kekuatan, maka itu dapat menjadi situasi yang mengancam kelangsungan hidup (Jepang)," ujarnya kepada parlemen awal bulan ini.
Berdasarkan aturan yang diberlakukan sendiri oleh Jepang, ancaman eksistensial adalah salah satu dari sedikit kasus di mana Jepang dapat bertindak secara militer.
Baca juga: Konflik Diplomatik Makin Panas, Jepang Peringatkan Warganya di China (sya)