floating-Pengguna QRIS di Jakarta...
Pengguna QRIS di Jakarta Capai 6,1 Juta, Kuasai 40% Pangsa Nasional
Pengguna QRIS di Jakarta...
Pengguna QRIS di Jakarta Capai 6,1 Juta, Kuasai 40% Pangsa Nasional
Sabtu, 29 November 2025 - 11:49 WIB
JAKARTA - Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta melaporkan digitalisasi sistem pembayaran di Jakarta terus menunjukkan percepatan signifikan sepanjang 2025. Peningkatan ini tercermin dari dominasi penggunaan QRIS di Ibu Kota yang kini mencapai 6,1 juta pengguna atau sekitar 40% dari total pangsa nasional dengan jumlah merchant juga tumbuh menjadi 6,4 juta.

"Perkembangan ekonomi digital, respons kebijakan moneter yang akomodatif, ekspor yang solid, serta keberlanjutan proyek strategis nasional menjadi fondasi utama resiliensi ekonomi," ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Yosamartha dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, dikutip pada Sabtu (29/11/2025).

Baca Juga: Indonesia Pamer QRIS di KTT G20, Bisa Dipakai di ASEAN, Jepang hingga Korsel

Ia menjelaskan, penetrasi QRIS yang mencapai 40% pangsa nasional telah memberikan dampak positif pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jakarta, dengan kontribusi mencapai 3,41%. Kinerja tersebut menunjukkan semakin tingginya adopsi transaksi nontunai di Ibu Kota.

Dengan perkembangan tersebut, BI memperkirakan ekonomi Jakarta akan tumbuh pada kisaran 4,6–5,4% (yoy) sepanjang 2025 dengan inflasi tetap terkendali pada sasaran 2,5 ± 1%. Untuk mencapai proyeksi itu, BI DKI Jakarta mengimplementasikan program Simfoni Jakarta yang terdiri dari Protect Jakarta, Connect Jakarta, dan Forward Jakarta.

Protect Jakarta diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi melalui stabilitas harga dan keamanan sistem pembayaran. Connect Jakarta menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, perbankan, investor, akademisi, dan media. Sementara Forward Jakarta mendorong inovasi digital, termasuk penguatan layanan transportasi publik dan pengembangan UMKM berdaya saing.

Dia menjelaskan, capaian tersebut menunjukkan ketangguhan ekonomi Jakarta di tengah ketidakpastian global, mulai dari transisi pemerintahan AS hingga tekanan geopolitik. Menurut dia, kombinasi kebijakan moneter yang akomodatif, pesatnya ekonomi digital, dan keberlanjutan proyek strategis nasional turut menjaga stabilitas ekonomi.

Baca Juga: QRIS Bisa Dipakai di China dan Korsel Mulai Tahun Depan, BI Kejar India dan Arab

Ia menuturkan, perekonomian Jakarta tetap tumbuh solid sepanjang 2025 dengan laju pertumbuhan sekitar 5% pada tiga triwulan pertama. Kinerja ini didorong oleh konsumsi rumah tangga dan pemerintah, intensitas kegiatan MICE dan berbagai event, serta percepatan realisasi belanja pemerintah.

Inflasi Jakarta juga terjaga pada level rendah dan stabil. Secara akumulatif hingga Oktober 2025, inflasi tercatat 2,02% (ytd), lebih rendah dibanding capaian nasional. Di sisi lain, intermediasi perbankan berjalan kuat dengan pertumbuhan kredit di atas 10% dan tingkat kredit bermasalah (NPL) yang tetap rendah di bawah 2%.

Yosamartha menyampaikan bahwa fokus kebijakan 2026 akan diarahkan pada ketahanan dan kemandirian pangan melalui penguatan TPID–GNPIP serta beberapa program pendukung lain. Dengan langkah ini, Jakarta berpeluang tumbuh 4,7–5,5% (yoy) pada 2026, sementara inflasi diperkirakan tetap dalam target 2,5 ± 1%.

"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dan inovasi dalam satu Simfoni demi mewujudkan Jakarta sebagai kota global dan kota sinema yang inklusif dan berdaya saing, hingga dapat menjadi bagian dari 20 besar kota global dunia pada 2045," ujarnya.
(nng)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Prakiraan Cuaca Jakarta...
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu 24 Juni 2026: Berawan Sejak Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Sore Hari
Warga Jakarta Bangun...
Warga Jakarta Bangun Gerakan Bersama Perangi Polusi Udara
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli