JAKARTA - Minyak mentah dan
gas alam Rusia menjadi salah satu faktor penentu keamanan energi Jepang. Hal ini disampaikan oleh Kementerian Ekonomi Jepang, merujuk pada proyek minyak dan gas Sakhalin-1 di Timur Jauh Rusia.
“Pemerintah
Jepang terus mengakui bahwa mengamankan energi dari luar negeri, termasuk Proyek Sakhalin, sangat penting bagi keamanan energi Jepang,” bunyi pernyataan itu.
“Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan pasokan energi Jepang yang stabil tidak terganggu,” tambah kementerian tersebut.
Baca Juga: 25 Tahun Lagi, India Bakal Menjadi Konsumen Minyak Terbesar di Dunia Jawaban Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang itu di tengah
sanksi terbaru AS terhadap Rosneft, produsen minyak terbesar di Rusia dan pemegang saham dalam proyek Sakhalin-1, yang juga dimiliki oleh kementerian ekonomi Jepang sebagai pemegang saham.
Proyek ini sebelumnya dioperasikan oleh Exxon, namun perusahaan besar tersebut meninggalkan Rusia pada tahun 2022. Rosneft memiliki 20% saham di Sakhalin-1, ONGC Videsh dari India memegang 20% lainnya, dan konsorsium Jepang yang terdiri dari kementerian ekonomi dan beberapa perusahaan energi memegang 30%.
Ketika gelombang sanksi terhadap Rusia dimulai setelah invasi Rusia ke Ukraina, perusahaan-perusahaan Jepang dan kementerian diberikan pembebasan dari tindakan hukuman karena negara tersebut sangat bergantung pada komoditas energi asing.
Sejak saat itu, pejabat pemerintah Jepang telah berulang kali menyatakan bahwa Jepang akan kesulitan untuk menghentikan penggunaan energi Rusia. Selain Sakhalin-1, yang mengekspor minyak mentah ke Jepang, negara ini juga membeli gas alam cair dari proyek Sakhalin-2.
Baca Juga: Siap-siap! Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD100/Barel Tanpa Minyak Mentah Rusia LNG Rusia menyumbang sekitar 9% dari total impor gas alam cair Jepang. Perusahaan utilitas JERA mengimpor gas dari Sakhalin-2 berdasarkan kontrak yang berakhir pada 2026 dan 2029.
Bulan lalu, setelah saran Presiden Donald Trump agar Jepang berhenti membeli komoditas energi Rusia, pemerintah menegaskan kembali sikapnya. Menteri ekonomi mencatat bahwa negara itu telah "secara bertahap mengurangi ketergantungannya pada energi Rusia."
(akr)