floating-Bangun Pabrik Microprotein,...
Bangun Pabrik Microprotein, Perusahaan Malaysia Siapkan Investasi Rp10 Triliun
Bangun Pabrik Microprotein,...
Bangun Pabrik Microprotein, Perusahaan Malaysia Siapkan Investasi Rp10 Triliun
Minggu, 30 November 2025 - 21:57 WIB
JAKARTA - Perusahaan teknologi pangan asal Malaysia , Ultimeat (M) Sdn Bhd menyatakan siap menanamkan investasi hingga Rp10 triliun untuk membangun dua pabrik microprotein di Indonesia guna mendukung pemenuhan kebutuhan protein Program Makan Bergizi Gratis (MBG) .

Pernyataan itu disampaikan dalam Focus Group Recommendation: Rantai Pasok Inklusif Susu dan Protein MBG yang digelar Badan Gizi Nasional (BGN) dan KADIN DIY di Yogyakarta, Jumat (28/11/2025). Dalam forum tersebut, Tim Pakar BGN Bidang Susu, Epi Taufik menjelaskan, konsumsi protein hewani Indonesia merupakan yang terendah di ASEAN, dan kondisi itu berdampak pada kualitas sumber daya manusia.

Ia menyebut rata-rata IQ nasional berada di angka 78, sementara data The International IQ Test menunjukkan IQ rata-rata orang Indonesia sebesar 92,64, terendah di Asia Tenggara. Epi juga mengingatkan bahwa 80% pasokan susu dan 52% daging sapi Indonesia masih bergantung pada impor.

"Ayam dan telur relatif cukup, tetapi susu dan sapi tidak. MBG jangan sampai meningkatkan impor," ujar Epi.

Baca Juga: SGU Dorong Pengembangan Inovasi Teknologi Pangan

Menanggapi kondisi tersebut, Founder dan CEO Ultimeat, Edwin Lee menyampaikan, bahwa pihaknya menawarkan microprotein berbasis singkong dan gula sebagai alternatif sumber protein yang sepenuhnya dapat diproduksi dari petani lokal.

"Semua bahan baku berasal dari dalam negeri. Tidak ada impor bahan," kata Edwin.

Microprotein Ultimeat diproduksi melalui fermentasi tujuh hari dan dapat digunakan sebagai pengganti daging dan susu dalam menu MBG. Microprotein tersebut mengandung sekitar 26% protein per 100 gram serta serat hasil fermentasi, dan menurut hasil uji coba rasa di forum, produk yang disajikan dalam bentuk nugget dan patty dinilai peserta memiliki karakter yang sangat mendekati daging ayam dan daging sapi.

Teksturnya yang lentur membuatnya mudah dibentuk menjadi berbagai menu, dan Epi menegaskan bahwa penerimaan rasa oleh anak-anak menjadi faktor penting dalam menentukan sumber protein untuk MBG.

Ultimeat merencanakan pembangunan dua pabrik besar di Lampung dan Malang, masing-masing bernilai USD300 juta atau sekitar Rp4,9 triliun. Jika dua pabrik berjalan, total investasi mencapai sekitar Rp10 triliun. Setiap pabrik membutuhkan suplai dua juta ton singkong dan satu juta ton gula per tahun.

Edwin menyatakan bahwa untuk tahap awal, Ultimeat hanya memerlukan serapan sekitar 15.000 ton microprotein per tahun agar investasi mulai berjalan. Ia menambahkan bahwa kebutuhan serapan untuk operasi penuh berada di kisaran 120.000–180.000 ton per tahun.

Microprotein Ultimeat dijual di kisaran USD3,5 per kilogram atau sekitar Rp56.000, jauh lebih murah dibanding harga rata-rata ayam (Rp40.000–60.000/kg), daging kambing (Rp120.000–140.000/kg), dan daging sapi (Rp130.000–160.000/kg).

Edwin menjelaskan bahwa harga microprotein relatif stabil karena berbasis fermentasi dan tidak bergantung pada fluktuasi pakan, cuaca, atau siklus panen ternak. “Harga ayam dan sapi naik-turun, tapi microprotein sifatnya konsisten dan bisa diproduksi dalam tujuh hari,” ujarnya.

Baca Juga: Tanpa Inovasi Teknologi, Indonesia Terancam Krisis Pangan

Sebagai langkah awal, Ultimeat akan mengirim satu kontainer microprotein (9 ton) dari fasilitas Malaysia untuk diuji coba di 30 SPPB di Yogyakarta, Pemalang, dan Malang. Produk itu diberikan secara gratis selama dua hari dalam dua pekan sambil menunggu penyelesaian izin.

“Kami ingin memastikan penerimaan produk dan kesiapan dapur MBG,” ujar Sam Kin Kit, Finance Director Ultimeat.

Edwin menegaskan bahwa meskipun MBG dapat menjadi jangkar pasar, Ultimeat tidak akan bergantung sepenuhnya pada pemerintah karena produk microprotein juga akan dipasarkan ke retail modern, industri makanan olahan, serta sektor horeca.

“Kami ingin membangun industri protein lokal yang berkelanjutan,” ujarnya.
(akr)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Menangkap Pangsa Terbesar...
Menangkap Pangsa Terbesar Wisata Medis, Malaysia Fair 2026 Hadir di Jakarta
Daging Kurban Ternyata...
Daging Kurban Ternyata Setara Whey Protein, Bisa Tingkatkan Massa Otot
Disebut Superfood, Ini...
Disebut Superfood, Ini Kandungan dan Manfaat dan Biji Bunga Matahari untuk Tubuh
Tren Jogging Meningkat,...
Tren Jogging Meningkat, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Protein untuk Performa Olahraga