TEL AVIV - Amerika Serikat (AS) dan
Israel meluncurkan latihan perang gabungan di Timur Tengah sejak hari Minggu. Manuver militer ini sebagai tandingan atas latihan perang serupa oleh
Iran di Teluk Persia yang berlangsung dua hari sebelumnya.
Latihan perang AS-Israel akan berlangsung selama seminggu. Menurut pernyataan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) latihan dengan nama sandi Intrinsic Defender ini diadakan oleh Angkatan Laut Israel dan Armada ke-5 Angkatan Laut AS.
"Tujuan latihan ini adalah untuk memperkuat kerja sama strategis dan operasional antara kedua Angkatan Laut dan berlatih menghadapi berbagai ancaman regional," kata IDF.
Baca Juga: Iran Gelar Latihan Angkatan Laut Skala Besar di Jalur Perairan Utama Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menggelar latihan perang di Teluk Persia, Laut Oman, dan Selat Hormuz yang dimulai pada hari Kamis.
Teheran mengatakan latihan tersebut merupakan pertunjukan kehadiran aktif dan peringatan bagi armada asing, terutama kapal perang Amerika di kawasan tersebut.
Pada hari pertama latihan, unit Angkatan Laut IRGC mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal asing untuk tidak melakukan pelanggaran apa pun.
Iran juga menguji coba rudal baru tanpa nama dengan jangkauan yang melebihi panjang Teluk Persia, kata seorang komandan Angkatan Laut IRGC tanpa menyebutkan jarak pastinya.
Pada hari Senin (8/12/2025), Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan membahas isu-isu regional termasuk Iran, menurut laporan
CNN. Sementara itu, para pejabat pertahanan Israel memperingatkan bahwa konflik baru mungkin terjadi.
Media Israel,
The Jerusalem Post, mengutip Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Amir Baram, melaporkan bahwa negara Yahudi tersebut sedang mengembangkan lebih banyak teknologi baru untuk mempersiapkan potensi perang berikutnya melawan Iran.
"Musuh sedang belajar dan beradaptasi. Kita berada di titik krusial sebelum paradigma baru terjadi," kata Baram dalam KTT DefenseTech Internasional di Tel Aviv.
"Peningkatan kekuatan Iran yang pesat dalam pertahanan udara dan kemampuan rudal balistik, yang didorong oleh ideologi ekstremisnya berarti bahwa semua front masih terbuka dan militer Israel harus siap menghadapi konflik berikutnya," ujar Baram.
(mas)